Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sloka 6 Kitab Sarasamuscaya: Kemahiran Bhagawan Wararuci Menemukan Intisari Kitab Mahabharata

Putu Agus Adegrantika • Selasa, 10 Oktober 2023 | 16:04 WIB
PENYULUH : Made Danu Tirta, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, memaparkan isi Sloka 6 Kitab Sarasamuscaya.
PENYULUH : Made Danu Tirta, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, memaparkan isi Sloka 6 Kitab Sarasamuscaya.

BALI EXPRESS – Cerita Mahabharata mengisahkan berbagai peristiwa yang sesuai dengan kehidupan yang ada saat ini. Hal tersebut tertuang dalam kitab Sarasamuscaya sloka 6 terbitan Ditjen Bimas Hindu 2021.

Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta, mengungkapkan, keagungan epos Mahabharata menjadi bahasan penting di bagian awal kitab Sārasamuscaya karya Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI.

Keutamaan sumber pokok dari kitab Sārasamuscaya ini, tidak saja dirasakan dan diagungkan pada zaman lampau, tetapi juga zaman modern saat ini.

Hal tersebut, dijelaskan dalam Sārasamuscaya Sloka 6 sebagai berikut: 

“Lawan waneh kottamanira, yan hana sira tĕlas rumĕngö rasa niking sang hyang aji, pisaningu juga sira ahyuna rumĕngwa kathantara, tĕka ring gīta wenu wīṇādi, kadyangganing wwang rumĕngö suśabdaning kuwong, huwus rumĕsĕp ri hati langĕning swaranya, amangun harsaning citta, tan hana gantāni kahyuna rumĕngwa rĕsning śabdaning gagak”. 

“Mangkana ling Bhagawān Wararucin panamaskara ring Bhagawān Byāsa, nĕhĕr umajarakĕn kottaman iking Bhāratakathā, iking inaranan Sārasamuccaya, sara ngaraning wiśeṣa, samuccaya papupulnya, nahan matangnyan Sārasamuccaya ngaraniking sang Hyang Aji, damĕl Bhagawān Wararuci, nihan pitĕkĕt Bhagawān Waiśampāyana ing Mahārāja Janamejaya, i kĕlanira sumaritaken ikang Bhāratakathā, yatiki witaning Sārasamuccaya.”

Terjemahannya:

Ada lagi keutamaan beliau yang lain. Bila ada orang yang memahami saripati/filosofi ilmu pengetahuan ini, maka ia sama sekali tidak akan mendengarkan/mempelajari cerita lain, termasuk nyanyian rebab, seruling dan lain-lainnya. Bagaikan orang mendengar kemerduan suara burung kutilang yang keindahan suaranya telah merasuk ke dalam kalbunya, lalu membangkitkan perasaan senang.

Untuk itu, tidak akan ada kemungkinan ia berkemauan untuk mendengarkan kengerian suara gagak.

Begitulah ucapan Bhagawan Wararuci untuk memberi penghormatan kepada Bhagawan Byasa.

Beliau selalu membicarakan keutamaan dari epos Mahabharata.

Intisarinya ini dinamakan Sārasamuscaya. Sāra artinya mahir, dan samuccaya berarti kumpulan/himpunan.

Itulah sebabnya Sārasamuscaya disebut sastra suci karya Bhagawan Wararuci.

Inilah yang dijadikan petuah oleh Bhagawan Waisampayana kepada Maharaja Janamejaya, ketika beliau menceritakan Mahabharata.

“Sloka 6 di atas menunjukkan bahwa epos Mahabharata sebagai ‘jiwa’ Sārasamuccaya merupakan sebuah kitab menarik. Kronologi cerita dalam epos Mahabarata mengisahkan berbagai peristiwa yang sesuai dengan kehidupan saat ini,” jelas Danu Tirta.

Hal ini menjadi salah satu dasar ketertarikan seseorang ketika mendengarkan ataupun mengulas kitab Mahabharata.

Banyak pelajaran penting yang dapat dipetik melalui epos Mahabharata, bahkan dapat dipergunakan sebagai inspirasi menarik untuk menghadapi berbagai problem hidup.

Baca Juga: Mampukah Bali United Tembus 4 Besar di Putaran Pertama Liga 1 Indonesia 2023/2024? Berikut Ulasannya 

Relevansi seperti ini tentunya membangun pola pikir pembaca atau publik bahwa epos Mahabharata merupakan cerita penting yang patut didengarkan dan diendapkan dalam batin secara matang.

Banyak kesejukan batin yang akan tumbuh ketika seseorang mampu memaknai cerita Mahabharata secara mendalam.

Berbagai godaan eksternal bersifat negatif, dimungkinkan dapat dinetralisir dengan adanya penghayatan mendalam terhadap epos Mahabharata ini. 

Aktivitas mengulas makna dari kisah Hindu seperti Mahabharata, pada dasarnya sebuah proses perenungan. Konteks perenungan dalam hal ini tertuju pada individu maupun kelompok.

Setiap orang memiliki masalah yang sejatinya memerlukan sumber tuntunan dalam melaksanakan perenungan diri.

Baca Juga: Pebalap Moto2 Alonso Lopez Heran dengan Tukang Kunci Indonesia 

Perenungan diri tidak hanya dilakukan dengan cara menghadap kepada guru suci, namun di satu sisi juga dapat dilakukan dengan membangun habitus aktif memetik nilai penting dalam sebuah cerita seperti Mahabharata.

Cerita Mahabharata yang memiliki makna hidup kompleks, dan selalu memiliki relevansi dengan kehidupan realistis, akan memberikan pencerahan dari dalam diri.

Dengan demikian, hasil perenungan terhadap epos Mahabharata akan memperkuat iman, ketenangan dan fokus berpikir seseorang, sehingga mampu “mengajegkan” hati maupun jiwa dalam mengarahkan hidup ke arah lebih baik. 

Keterampilan batin akan sempurna ketika seseorang mampu memahami intisari dari epos Mahabharata.

Makna luhur yang terselubung dalam epos Mahabarata memerlukan kecermatan batin dalam mengungkapnya.

Baca Juga: Ramalan Zodiak Cinta untuk Pisces Rabu 10 Oktober 2023: Agresif dengan Cara Tidak Biasa 

Hasil dari kemahiran memetik nilai-nilai dalam epos Mahabharata ini, merupakan sebuah karya agung yang salah satunya dilakukan oleh Bhagawan Wararuci.

Oleh sebab itu, himpunan dari intisari dari Mahabharata disebut dengan Sārasamuscaya.

“Sehingga, Sārasamuscaya merupakan himpunan tuntunan hidup yang dikonstruksi melalui kemahiran Sang Bhagawan dalam memetik intisari epos Mahabharata. Sārasamuccaya yang secara etimologi diartikan sebagai himpunan mahir, juga dimaksudkan sebagai pegangan atau referensi dasar bagi manusia untuk mahir dalam beretika ketika menjalani kehidupannya,” tandas Danu Tirta.

Editor : Nyoman Suarna
#Sarasamuscaya #sloka 6 #Mahabharata #bhagawan wararuci