Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tidak Boleh Sembarangan: Ini Aturan Tata Letak Dapur di Bayung Gede Menurut Tradisi Bali Kuno

I Putu Mardika • Kamis, 12 Oktober 2023 | 18:15 WIB
PAON ATAU DAPUR: Bendesa Adat Bayung Gede, Ketut Sukarta: letak paon (dapur) di Desa Adat Bayung Gede, Kintamani, Bangli tidak boleh sembarangan.
PAON ATAU DAPUR: Bendesa Adat Bayung Gede, Ketut Sukarta: letak paon (dapur) di Desa Adat Bayung Gede, Kintamani, Bangli tidak boleh sembarangan.

BALI EXPRESS - Desa Adat Bayung Gede, Kecamatan Kintamani, Bangli sangat memperhatikan tata letak paon atau dapur.

Sebab, paon tidak hanya menjadi tempat memasak dan ruang makan, tetapi juga memiliki fungsi penting tentang daur hidup yang menjadi loka dresta.

Bendesa Adat Bayung Gede, Jro Ketut Sukarta mengatakan, paon tidak boleh dibangun berhadap-hadapan dengan jineng atau lumbung.

Hal ini disebabkan karena fungsi sakral jineng sebagai tempat kedudukan Saing Patpat (anggota 4 Dulun Desa yang sangat disucikan) saat menyelesaian aneka ritus.

“Saing Patpat tidak boleh leteh atau tercemar oleh keberadaan jenazah. Paon ditempatkan di bagian tengah atau di depan sanggah/tempat suci keluarga untuk menjauhkannya dari jineng yang ditempatkan di depan karang umah,” sebutnya.

Saat upacara kematian dan menyusun nasi kawas, Saing Patpat Dulun Desa tidak boleh mendekati paon karena mereka sudah melalui beberapa kali upacara metelas atau pembersihan diri.

Sehingga, paon ditempatkan di tengah karena jineng diletakkan di bagian depan karang umah.

Paon ditempatkan di tengah karang umah antara bale pegaman dan sangga.

Bale pegaman sangat disakralkan karena merupakan tempat untuk melakukan pemujaan kepada Ida Bhatara Sakti Pingit atau Jaya Pangus.

Sementara itu, sanggah sebagai tempat suci merupakan tempat melaksanakan berbagai ritus.

Keduanya (bale pegaman dan sanggah) memerlukan dukungan paon dalam mempesiapkan makanan untuk persembahan, sehingga cukup tepat paon ditempatkan di antara bale pegaman dan sanggah.

Ia menambahkan, membangun paon harus memperhatikan titik lokasi. Aturannya, jika rurung di sebelah timur karang umah, maka tata letak paon dan sanggah di sebelah baratnya dan sebaliknya.

Apabila rurung berada di barat karang umah, maka paon dan sanggah ditempatkan di sebelah timurnya.

Tata letak paon terakhir adalah di sebelah utara karang umah, apabila tata letak rurung di sebelah selatannya.

Dapur juga sebagai sarana untuk ari-ari atau plasenta bayi (dianggap jenazah) dan jenazah simbolis (cangku) yang dibaringkan dan ditempatkan di bale tidur paon.

Inilah alasannya mengapa paon tidak boleh dekat dengan jineng, karena jineng berfungsi sakral sebagai tempat Dulun Desa Bayung Gede menyelesaikan semua jenis upacara yang berlangsung di areal karang umah.

“Anggota dulun desa yang telah melakukan ritual metelas dan sudah suci tidak boleh berdekatan dengan jenazah. Sehingga paon ditempakan berjauhan dari jineng atau di bagian dalam dekat dengan sanggah pada karang umah,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#kuno #bali #paon #dapur #hindu bali #bayung gede #tradisi #tata letak