Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali Matuwun sebelum Ngaben:Tak Ada dalam Sastra, Gunakan Nalar untuk Meyakini

I Putu Mardika • Jumat, 13 Oktober 2023 | 18:39 WIB
MATUWUN: Ida Bagus Made Bhaskara dari Geria Sunia Tampaksiring, Gianyar membahas soal tradisi nunas bawos atau matuwun sebelum ngaben.
MATUWUN: Ida Bagus Made Bhaskara dari Geria Sunia Tampaksiring, Gianyar membahas soal tradisi nunas bawos atau matuwun sebelum ngaben.

BALI EXPRESS - Nunas Bawos atau matuwun kerap dilakukan untuk mendapatkan pawisik atau petunjuk bagi pitra yang akan dibuatkan upacara pengabenan.

Matuwun ini dilakukan oleh sanak saudara yang meninggal untuk memastikan apakah ada permintaan, baik banten maupun hal lain jelang upacara pengabenan.

Tetapi, tidak jarang saat proses matuwun, sang roh yang meminjam badan kasar Balian kerap meminta hal-hal yang tidak masuk akal, di luar banten atau sarana yang dibutuhkan, seperti  sepeda motor hingga barang lainnya.

Tentu hal ini memberikan berbagai macam asumsi bagi pratisentananya yang akan mengabenkannnya.

Penekun Lontar Ida Bagus Bhaskara dari Geria Sunia Tampaksiring Gianyar dalam channel @Kapiyot mengatakan, pelaksanaan ngaben di Bali memiliki uger-uger, baik mengacu pada sastra maupun berdasarkan konsep desa kala dan patra.

Dikatakan Bhaskara, banyak fenomena umat Hindu yang melaksanakan prosesi nedunang atau mepeluasang atau matuwun.

Menurutnya, proses matuwun tidak perlu dilakukan karena upacara pengabenan sudah berdasarkan sastra. Namun hal itu kembali kepada rasa atau kepuasan diri (atmanastuti).

“Jadi tidak perlu dikomunikasikan lagi melalui matuwun atau nedunang. Karena  proses pengabenan merupakan bentuk keyakinan yang sudah mengacu pada sastra,” paparnya.

Bhaskara mengingatkan bahwa pelaksanaan upacara ngaben tidak serta merta menentukan posisi leluhur, apakah mendapat sorga dan neraka ataupun meraih posisi sunia loka.

Namun tujuannya adalah mendoakan agar leluhur mendapat tempat yang bagus, sesuai dengan karma wasana.

“Doa kita sangat membantu, karena dasar prinsip yadnya adalah karma sandiasa. Bagaimana menerapkan karma yadnya untuk membantu proses pelepasan leluhur kita, dan menyatu dengan brahman,” imbuhnya.

Bhaskara menyebut, memang banyak kasus unik yang terjadi saat mepeluasan sebelum ngaben dilaksanakan. Semisal ada leluhur yang tidak mau diabenkan. Padahal menurut Weda, sang pitra wajib diaben.

“Tetapi karena bersumber dari rawos mepinuasan, roh itu tidak mau diaben. Akhirnya tidak diaben. Otomatis pratisentananya bingung,” contohnya.

“Ada juga kejadian aneh, si roh minta dibekali sepeda motor. Ini tentu sangat tidak logis. Kita dibekali wiweka, jadi harus pakai logika menalarnya,” pesannya.

Menurutnya, beragama dengan mengutamakan nalar sangatlah penting.

Kalaupun ada yang mempertanyakan itu, maka ia menyarankan agar tetap menggunakan wiweka (logika).

Sebab, jika ada permintaan di luar dan tidak masuk akal, sebaiknya tidak diindahkan, atau pindah di tempat lain untuk nunasang bawos.

Baca Juga: Tradisi Bali: Uniknya Tari Gandrung Desa Batukandik, Ditarikan Anak Laki Satu Keturunan, Pengganti Tirta Sakti

Menurutnya, tidak ada dasar sastra yang mengatur secara langsung maupun tidak langsung terkati prosesi matuwun, baik dilakukan setelah meninggal, atau saat akan ngaben. Lontar Yama Purana Tatwa maupun Purana Yama Tattwa yang menegaskan soal proses pengabenan, juga tidak menyinggung soal matuwun, nunas baos atau mapeluasan.

Sejauh ini tidak ada rujukan bahwa setelah meninggal wajib mepeluasan. Namun hal ini erat kaitannya dengan rasa.

“Karena rasa dan sastra tidak bisa dipisahkan. Namun harus dicermati secara logika dan wiweka. Ini juga bukan menyalahkan,” ungkapnya.

Editor : Nyoman Suarna
#tradisi bali #ngaben #nunas bawos #sastra #hindu #matuwun