Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Sastra dan Rasa harus Imbang, Kalau Matuwun sebaiknya di Empat Desa Berbeda

I Putu Mardika • Jumat, 13 Oktober 2023 | 18:40 WIB
MATUWUN: Prosesi matuwun, nunas baos atau mapeluasan adalah soal rasa. Kalau matuwun, sebaiknya dilakukan di empat desa berbeda.
MATUWUN: Prosesi matuwun, nunas baos atau mapeluasan adalah soal rasa. Kalau matuwun, sebaiknya dilakukan di empat desa berbeda.

BALI EXPRESS - Antara sastra dan rasa harus berimbang. Sastra yang diterapkan tanpa rasa, maka akan menjadi bentuk yang kasar dan kering. Sehingga harus bisa dirasakan proses perjalanan leluhur, agar doa bisa sampai ke tujuan.

Dikatakan Ida Bagus Bhaskara, untuk mengetahui perjalanan leluhur, apakah sudah mencapai tempat yang tepat, bisa mengacu pada sastra.

Ada sastra yang menyebutkan: “Kadi mengaton ikanang surya, mahabara dahat, buta palanya”

Baca Juga: Program Studi S1 Pariwisata Universitas Udayana Gelar Kuliah Tamu ‘In Search Of Balance In Tourism’

Artinya, jika ingin mengetahui bagaimana perjalanan leluhur setelah meninggal, diibaratkan seperti menengok ke atas dan melihat matahari. Tentu, mata akan merasa silau, panas. Bahkan kalau dipaksakan akan membuat mata buta.

Begitulah analoginya. Jika ingin melihat matahari, maka pantulkan ke dalam air. Pantulan ini membuat kita bisa melihat bayangan matahari. Jadi pesan moralnya adalah lihatlah ke bawah.

“Lihatlah ke generasi kita. Lihatlah pratisentananya. Ketika keturunan sudah sehat, sejahtera, pendidikan cukup, kesehatan baik, pekedek, pekenyung, maka bisa disimpulkan bahwa perjalanan leluhur yang kita upacarai sudah sukses,” sebutnya.

Sebaliknya, setelah melaksanakan upacara ngaben, namun situasi memburuk, keluarga tidak harmonis, ekonomi memburuk, sakit-sakitan, mungkin ada sesuatu yang salah atau ada yang kurang.

“Sekali lagi, kita tidak pernah tahu apakah leluhur kita sampai di sorga, mencapai sunia dan sebagainya. Karena tergantung dengan karma wasana. Namun kita sebagai generasi wajib mendoakan melalui karma sandiasa, karma yadnya,” paparnya.

Maka dari itu, ketika mempraktikkan yadnya, menurut kitab Manawadharmasastra, dasar pelaksanaannya adalah iksa atau pengetahuan.

Ketika hendak melaksanakan upacara ngaben, harus ada keinginan, yaitu keinginan membayar utang, mendoakan leluhur agar mendapat tempat yang layak

Kedua adalah sakti atau kemampuan modal materi. Jangan sampai modal terganggu dengan rawos munyin balian. Sebab, jangan sampai minta modal yang besar sedangkan dana tidak mencukupi

Selanjutnya, desa adalah ruang lingkup. Di ruang itu wajib melakukan mepinunas sebelum ngaben. Apalagi eedan sampai terganggu.

Jangan sampai mepinumas, maju mundur, maka dudonan acara bisa saja akan terganggu.

Ada juga kala (waktu) atau dewasa. Maka waktu ngaben itu sangat penting, jangan sampai diubah.

“Jadi mepeluasan atau mebawosan itu ada di bagian atmanastuti. Rasa itu penting, atmanastuti penting. Ada kepuasa batin, maka kita bebas mencari tempat mepeluasan. Makanya disarankan agar nunas bawos tidak hanya di satu tempat. Usahakan di empat desa atau lokasi berbeda. Kalaupun tidak ingin melakukan mepeluasan, juga tidak masalah,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#tradisi bali #rasa #nunas bawos #sastra #hindu #desa #matuwun