BALI EXPRESS - Pura Luhur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sanga yang terletak di Banjar Pondok Peguyangan Kaja Denpasar Utara, Denpasar memiliki tarian sakral bernama sesolahan Legong Dedari.
Tarian Legong Dedari ini hanya ditarikan ketika upacara piodalan
Menurut perkiraan, Pura Luhur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sanga ini sudah ada sejak abad ke 17 atau 18.
Pura ini terletak di timur Jalan Antasura (Jalan Nangka Utara) menuju instalasi penjernihan air PDAM di Belusung, Denpasar Utara.
Jero Mangku Niang selaku pengempon pura Luhur Catur Kanda Pat Sari menjelaskan, keberadaan pura ini erat kaitannya dengan leluhurnya, Dewi Ibu.
Secara mitologis, tuturnya, Jero Manoraga yang bergelar Dewi Ibu ini konon memiliki kelebihan dari manusia biasa.
“Beliau memiliki kesaktian, yaitu ketika hamil beliau merasa bisa menitipkan anak dalam kandunganya pada bunga teratai,” katanya.
Karena itu pula di areal Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pangideran Dewata Nawa Sanga, selalu ditanami bunga teratai.
Setelah putranya lahir, keanehan kembali terlihat. Putranya yang lahir tidak memiliki pusar, keduanya sangat sakti.
Jero Manoraga yang bergelar Dewi Ibu dan juga anak yang dilahirkanya sangat disegani oleh orang-orang. Beliau juga mampu menyembuhkan orang yang sakit. Jero Manoraga yang bergelar Dewi Ibu tersebut juga memiliki jnana yang tinggi,
Konon bisa pulang pergi ke sorga dan kembali ke dunia. Apa yang beliau lihat di sorga lalu dibuat di dunia, sehingga dibuatlah Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pangideran Dewata Nawa Sanga.
Pada saat membuat pura tersebut, konon tidak dibuat oleh manusia biasa. Melainkan ada para pengayah atau orang-orang yang datang membantu.
Entah dari mana asalnya, para pengayah ini datang dari timur, selatan, barat, utara dan setiap sudut. Mereka bersorak sorai, lalu secara tak kasat mata Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pangideran Dewata Nawa Sanga tiba-tiba telah selesai dibangun.
Setelah wafat, Dewi Ibu ini konon meminta untuk dikubur di jaba Pura Kahyangan. Beberapa hari kemudian kuburan itu dibongkar. Anehnya, jasad beliau tidak ada. Hanya tersisa berupa kwangen, sehingga diyakini Jero Manoraga yang bergelar Dewi Ibu sudah moksa.
Pura itu juga sebagai tempat pemujaan sembilan dewa yang merupakan putra-putra Sang Hyang Pasupati yang berstana di Gunung Mahameru.
Menurut Jero Mangku Niang, enam puluh tahun silam legong tidak pernah ditarikan.
Akibatnya, fenomena aneh pun terjadi. Masyarakat Banjar Pondok mengalami grubug. Beberapa warga mati secara beruntun. Sedikitnya delapan orang meninggal secara mendadak. Uang dana punia di balai banjar juga hilang dengan misterius.
Setelah kejadian itu, salah satu warga kerauhan. Dia mengatakan bahwa Ida Bhatara sasuhunan ingin kembali napak pertiwi diiringi Tarian Legong Dedari.
Masyarakat bermusyawarah dan menyepakati untuk menarikan kembali sasuhunan dengan iringan legong dedari.
Jadi Legong Dedari masolah karena kehendak Ida Bhatara Sasuhunan yang melinggih di Pura Luhur Catur Kanda Pat Sari Pangiderin Dewata Nawa Sanga.
“Tanggal 25 September 2018, Legong Dedari ditarikan pertama kali sejak 60 tahun silam, sebagai awal Ida Betara Napak Pertiwi (nuasen),” sebutnya.
Editor : Nyoman Suarna