Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Uniknya Legong Dedari di Pura Luhur Kanda Pat Sari, Ini Bedanya dari Tari Bali yang Lain

I Putu Mardika • Sabtu, 14 Oktober 2023 | 18:21 WIB
BEDA PAKEM: Tari Legong Dedari di Pura Luhur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sanga memiliki pakem dan struktur tari yang berbeda dengan tari legong lainnya.
BEDA PAKEM: Tari Legong Dedari di Pura Luhur Kanda Pat Sari Pengideran Dewata Nawa Sanga memiliki pakem dan struktur tari yang berbeda dengan tari legong lainnya.

BALI EXPRESS - Sasolahan Legong Dedari menunjukkan banyak keajaiban dan keanehan dibanding tarian legong pada umumnya.

Sebelum pentas, para penari wajib mengikuti prosesi penyucian di pagi hari di Pura Luhur  Kanda Pat Sari Pangideran Dewata Nawa Sanga.

Dikatakan Jro Mangku Niang, sasolahan Legong Dedari ditarikan oleh dua belas orang wanita remaja.

Saat ngayah, mereka mengenakan pakaian khusus dan khas, mengikuti warna pengider-ider.

Ketika legong masolah, dipersembahkan segan 33 tanding dan sambleh.

Ida Bhatara sasuhunan kapundut ngider buana ping tiga, keliling kalangan 3 kali ke arah kanan.

Para penari Legong Dedari mejaya-jaya natab banten pabyakalan, sembahyang dan nunas tirta, dituntun oleh 2 orang mangku.

Tari Legong Dedari ini diiringi gamelan pelegongan khas Banjar Pondok.

Tahap pertama, penari yang menari hanya berjumlah enam orang. Masing-masing dua orang memakai pakaian putih dengan posisi di arah timur, pakaian merah di arah selatan, pakaian kuning di arah barat, pakaian hitam di arah utara.

Posisi ini menjadi perbedaan prinsip dari tarian legong pada umumnya.

Pada tahapan kedua empat orang penari menari, masing-masing seorang warna putih, merah, kuning dan hitam mengikuti posisi tarian sebelumnya.

Pada tahapan ketiga, dua penari yang mundut gelungan sakral berpakian hitam dan putih keluar menari. Sedangkan penari rangda, pemundut keris, kober bergambarkan Anoman, baru keluar setelah dihaturkan upacara penyambleh.

Selanjutnya, dua penari yang mundut gelungan sakral menjemput (mendak) Ida Sasuhunan (Ida Ratu Ayu Mas Maketel yang mapalawatan Rangda).

Mereka menari membentuk komposisi Bungan Tunjung. Rangda yang ada di tengah-tengah sebagai Siwa Pasupati, menari bergerak memutar ke arah kiri. Sedangkan legong dedari memutar ke kanan sebanyak tiga kali.

Selesai gerakan memutar, semua yang menari dalam keadaan tidak sadar. Tarian ini tidak dialami oleh penari pelegongan pada umumnya.

Kemudian di hadapan pelinggih, para penari yang tidak sadarkan diri ini dihaturkan upacara ngeluhur atau mesineb. Dengan diperciki tirta, para penari pun mulai sadar.

“Sebelum napak pertiwi, Ida Sasuhunan dipersembahkan banten Pejati, segan, sambleh ayam hitam. Selanjutnya Ida Sasuhunan bergerak memutar keliling ke arah kiri tiga kali (napak pertiwi ngider buana), diikuti pejenengan lainnya seperti kober bergambar Hanoman, keris, dua buah Gelungan Legong serta Ida Betara Ratu Ayu Mas Maketel (Rangda),” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#legong dedari #pura luhur kanda pat sari #tari bali #hindu #tradisi