BALI EXPRESS – Dalam ajaran Hindu, konsep reinkarnasi dan tujuan hidup manusia untuk mencapai pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian (saṁsāra) sangat penting.
Hal tersebut diuraikan dalam Sloka 10 Kitab Suci Sarasamuccaya versi Ditjen Bimas Hindu yang berbunyi:
“Iyaṁ hi yoniḥ prathamā yāṁ prāpya jagatīpate, ātmānaṁ śakyate trātuṁ karmmabhiḥ śubhalakṣaṇaiḥ.”
Dalam sloka ini dijelaskan, kelahiran ini adalah yang terpenting bagi raja. Setelah mendapatkannya seseorang dapat menyelamatkan dirinya dengan perbuatan mulia.
“Apan iking dadi wwang, uttama juga ya, nimittaning mangkana, wĕnang ya tumulung awaknya sangkeng sangsāra, makasādhanang śubhakarma, hinganing kottamaning dadi wwang ika.”
Artinya: Oleh karena menjadi manusia itu sungguh mulia, demikianlah sebabnya. Dia mampu menolong dirinya sendiri dari saṁsāra, dengan jalan berbuat baik. Begitulah keuntungan menjelma sebagai manusia.
Ni Made Ayu Suniari, pengajar agama Hindu menjelaskan makna mendalam di balik sloka ini.
Ia menggambarkan pentingnya kelahiran dalam ajaran Hindu sebagai anugerah dan peluang untuk perkembangan spiritual dan perbaikan karma.
Sloka ini juga menyoroti peran kepemimpinan, khususnya bagi seorang raja dalam menjaga kesejahteraan dan keadilan masyarakatnya.
Seorang raja dianggap sebagai pelindung rohaniah dan pemimpin rakyatnya.
Dalam ajaran Hindu, melakukan perbuatan baik dan mengikuti prinsip-prinsip Dharma adalah kunci untuk memperbaiki karma dan mempercepat evolusi spiritual.
Hal ini mencerminkan pentingnya etika dan moral dalam kepemimpinan dalam konteks ajaran Hindu.
Sloka ini merujuk pada konsep reinkarnasi, di mana manusia memiliki kesempatan untuk memperbaiki nasib mereka melalui perbuatan baik.
Konsep karma juga ditekankan, yaitu perbuatan memengaruhi nasib di kehidupan berikutnya.
Tujuan akhir dalam ajaran Hindu adalah mencapai moksha atau pembebasan, yang mencerminkan aspirasi untuk keluar dari siklus saṁsāra.
Melalui perbuatan baik dan pemahaman akan tujuan spiritual ini, manusia memiliki kesempatan untuk mencapai pembebasan dari siklus kelahiran dan kematian.
Dengan merenungkan sloka ini, kita dapat lebih memahami betapa berharganya kehidupan manusia dalam ajaran Hindu, serta peran karma, etika, dan tujuan spiritual dalam mencapai pembebasan.
Editor : Nyoman Suarna