BALI EXPRESS - Janin yang masih berada di dalam kandungan rupanya memiliki beragam nama sesuai dengan usia kandungannya.
Selain itu, ketika lahir, nama bayi juga diungkapkan di dalam Lontar Kanda Pat Bhuta
Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd mengatakan, Lontar Kanda Empat memiliki beberapa bagian, seperti Kanda Empat Rare, Kanda Empat Bhuta, Kanda Empat Sari, Kanda Empat Dewa, Lontar Kanda Empat Bhuta.
Tahapan-tahapan inilah yang akan dilalui sebagai seorang manusia yang tumbuh bersama dengan saudara empat yang hidup di dalam diri kita.
Saudara yang akan menemani saat lahir hingga mati menjadi sebuah kewajiban orang hindu Bali mengetahui keberadaan dari saudaranya.
Lontar Kanda Pat Bhuta erat kaitannya dengan pola asuh orang tua kepada anaknya. Diawali dari menyatunya kama bang dan kama petak sebagai penyatuan ibu dan ayah sehingga menjadi seorang anak.
Unsur laki-laki disebut kama petak, sukla, kamajaya, Sang Hyang Semara, sperma, sel mani, air mani. Selanjutnya unsur wanita disebut kama bang, swanita, kama ratih, Dewi Ratih, ovum, sel telur.
Kedua inilah yang menyatu dan menjadi janin di dalam kandungan.
Tumbuhnya bayi ini menjadi kesatuan yang lengkap karena diberkati oleh Sang Hyang Murcohaya, Sang Hyang Taya, Sang Hyang Ngalengis, Sang Hyang Raja Tangi, Sang Hyang Murtining Luwih, Dewa Nawa Sanga, Sapta Rsi, Panca Rsi, dan Sang Hyang Tiga Wisesa.
Pada saat terjadi pertemuan ayah dan ibu (bersenggama), ketika itu benih laki-laki keluar dari ayah dan benih perempuan keluar dari ibu.
Setelah sebulan pertemuan akan timbul pancaran matahari dan bulan. Dua bulan pertemuan berlalu, akan timbul suara, pikiran dan tenaga.
Tiga bulan akan terbentuk panca warna (lima warna). Empat bulan terbentuk bumi dan langit, kemudian bersatu membentuk manusia dengan mata, telinga, hidung, mulut, tangan, kaki, kemaluan, dan pantat.
“Bagaimana anak tumbuh dengan kasih sayang kedua orang tua sehingga dapat beranjak dewasa, diulas dalam Lontar Kanda Pat Bhuta ini,” paparnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Pria asal Desa Bakbakan Gianyar ini menyebutkan, istilah janin diawali ketika sang ayah dan ibu menyatukan kasih sayang disebut dengan pertemuan sanghyang Surya Candra.
Dalam lontar ini disebutkan nama-nama si cabang bayi pada saat masih berada di dalam kandungan.
Sebagai contoh, saat janin berusia sebulan paska pertemuan antara kama petak dan kama bang di dalam Rahim ibu disebut Sanghyang Maya Siluman.
Kemudian Sanghyang Smara Buncing saat usia kandungan memasuki bulan kedua.
Sanghyang Kala Molah saat usia kandungan tiga bulan. Saat janin pada usia ini telah muncul Sanghyang Panca Pharabhuwana.
Baca Juga: Polda Metro Jaya Panggil Mantan Pimpinan KPK: Saksi Kasus Dugaan Pemerasan pada SYL
Sanghyang Kama Manik saat janin memasuki usia 4 bulan, dan telah berstana Sanghyang Dewata Nawa Sangha.
Sang Kamareka saat usia ini janin berusia 5 bulan. Pada saat ini kondisi janin sudah menyerupai bentuk lengkap yang utuh, seperti manusia yang tertulis dalam kutipan teks Lontar Kanda Empat Bhuta, 2b.
Ika ta sang kamareka nga, was mangkana gnep saprantasaning mandadya janma, wus mahulu, marambut, makarna, manetra mairung, macangkem, mabahu, mawak, tangan, suku, gigi, mawaduk, mawodel, mabhaga, mapurus, masilid, macunguh, majriji, smalih tegep sapadagingannya, mwang jron kabeh, irika maharani sanghyang cilimareka munti maharatinga
Selanjutnya, saat usia janin memasuki masa kandungan enam bulan, maka disebut I Lare Kuranta. Pada usia ini janin muncul gen (garis keturunan) dari ibu juga disebut Babu Lembana.
Pada saat usia janin memasuki usia tujuh bulan, maka disebut dengan Sang Hyang Lumut.
Pada usia ini gen (garis keturunan) dari bapak mulai muncul pada si janin sehingga disebut Babu Abra.
Sedangkan saat usia menginjak 8 bulan, maka disebut Sanghyang Kama Geger.
Pada usia ini janin disebut juga dengan nama Babu Kakered.
Pada usia kandungan delapan bulan ini si janin bersama-sama makan, mengasihi, menyayangi dengan saudaranya.
“Mereka bersama sama hidup yang bersumber dari tetesan kehidupan yang disebut Kundi Manik,” ungkapnya.
Editor : Nyoman Suarna