BALI EXPRESS - Di dalam kerauhan, ada dua hal yang terjadi. Pertama, ada yang mawecana dan mesolah.
Mawecana itu artinya ada yang akan disampaikan. Jadi mawecana itu artinya wacana atau komunikasi.
Pada saat ada orang yang kerauhan dan mawecana, maka yang berhak menyampaikan adalah janbangul Ida Bhatara.
Beliaulah menjadi medium untuk menyampaikan sesuatu. Ada pesan, nasihat petunjuk yang dikaitkan dengan pesan saat kerauhan.
Fenomena kerauhan juga erat kaitannya dengan mesolah. Ekspresinya itu lebih ke gerakan badan seperti menari. Makanya dalam beberapa orang kerauhan dengan menari, ngunying, menyerupai unen-unen Ida Bhatara.
“Jika saat kerauhan itu adalah Pemangku Gede di pura, dan beliau mengaku dari sesuhunan yang berstana atau roh suci, maka tidak perlu ada prosesi pembuktian atau mintonin. Itu menurut Widhi Sastra,” sebutnya.
Berbeda jika yang kerauhan itu bukan dari kalangan pemangku yang kebetulan ada di pura. Tiba-tiba ada masyarakat kerauhan, maka itulah patut pintonin (dibuktikan) terkait informasi yang disampaikan.
“Ya kalau informasi benar, tetapi kalau digunakan untuk menjatuhkan seseorang, tentu akan menimbulkan masalah. Maka harus dipastikan kebenarannya,” tuturnya.
Ada beberapa cara mintonin orang kerauhan, seperti menggunakan api, air, dan benda-benda yang mampu menyadarkan. Hal itu untuk memastikan, apakah benar Ida Seshununan yang akan mawecana.
“Akan ketahuan ngae-ngae ape sing (pura-pura atau tidak),” tegasnya.
Seperti diketahui, Fenomena kerauhan di Bali saat ini menjadi stigma negatif. Kondisi ini diperparah dengan diviralkannya setiap ada fenomena kerauhan diiringi backsound.
Padahal menurut penekun lontar, Ida Bagus Made Bhaskara, dari Geria Sunia Tampaksiring Gianyar dalam channel @Kapiyot menjelaskan, kerauhan merupakan tradisi yang sudah ada sejak era Bali Kuna, sebelum masuknya Hindu ke Bali.
Menurutnya, kerauhan adalah bagian dari peradaban animisme dan dinamisme.
Tradisi ini sebagai kepercayaan purba kalau kekuatan alam dan manusia saling berpengaruh. Ada juga kekuatan roh suci yang berinteraksi dengan manusia.
Di Bali, ketika agama Hindu masuk, konsep hubungan antara roh suci masih terbawa, dan tidak terhapuskan, tetapi dimaknai kembali.
Editor : Nyoman Suarna