BALI EXPRESS – Menurut keyakinan agama Hindu, kehidupan seseorang yang ada di dunia ini merupakan kelahiran yang berulang-ulang. Hal tersebut pun tertuang dalam Sloka 12 kitab Sarasamuscaya.
Dalam kitab Sarasamuscaya yang diterbitkan Ditjen Bimas Hindu disebutkan, penjelmaan sebagai manusia mengalami siklus yang panjang, karena erat kaitanya dengan konsep punarbawa yaitu kelahiran berulang-ulang.
“Sopānabhūtaṁ svarggasya mānuṣyaṁ prāpya durllabhaṁ, tathātmānaṁ samādadhyād dhvaṁseta na punaryyathā.”
Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba, menjelaskan, kitab Sarasamuscaya Sloka 12 mengulas kelahiran menjadi manusia yang sangat sulit dicapai.
“Sebab, penjelmaan sebagai manusia mengalami siklus yang panjang, karena erat kaitanya dengan konsep punarbawa, yaitu kelahiran berulang-ulang atau reinkarnasi,” jelasnya.
Sebagai manusia, paparnya, sangatlah utama karena dia mampu memperbaiki perbuatan yang tidak baik menjadi baik, jahat menjadi bijak.
Sehingga alam sorga terbuka lebar untuk manusia yang berbuat baik dan bijak. Sorga di identikan dengan alam penuh kebahagiaan, kesenangan, kedamaian.
Siapapun yang mencapai kebahagian, kedamaian ini akan mampu membawa perubahan hidup menjadi lebih baik dan akan mampu mencapai moksa sekala niskala, serta mewujudkan tujuan agama Hindu yaitu Moksartham Jagadhita ya iti dharma.
Dengan kata lain, manusia harus mampu bertindak berdasarkan dharma untuk mencapai moksa, agar tidak terjatuh pada kawah neraka yang akan menyiksa dirinya dalam kesengsaraan hidup di dunia ini.
Dengan kata lain menjelma sebagai manusia adalah sungguh-sungguh utama karena dia mampu untuk melaksanakan perbuatan buruk ataupun perbuatan baik.
Ketika perbuatan buruk mendominasi maka bersiap-siaplah terjatuh pada kawahnya neraka.
“Rohnya akan disiksa oleh malaikat pencabut nyawa. Kelahirannya akan terlunta-lunta tidak jelas, ketika penyiksaannya belum berakhir, dan diputuskan oleh dewa pemutus ( prajapati ),” imbuhnya.
Karena pada intinya, dirinya sendirilah yang mampu memperbaiki serta melebur perbuatan buruk menuju perbuatan baik sehingga melahirkan manusia yang bijaksana dan dijauhkan oleh awidya. “Baik-baiklah berbuat di dunia ini, agar menemukan perjalanan terang menuju surga,” pintanya.
“Begitulah keutamaan menjelma sebagai manusia di dunia. Semoga semua makhluk berbahagia,” pungkas Ida Bagus Manuaba.
Editor : Nyoman Suarna