Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Bali: Peran Kanca Satak dalam Pelaksanaan Upacara di Pura Dalem Balingkang dan Pura Pegonjongan

I Putu Mardika • Selasa, 24 Oktober 2023 | 22:12 WIB
PURA PUCAK PENULISAN: Pura Pucak Penulisan sebagai pusat orientasi banua Gebog Domas dengan sub-sub pusat banua di Desa Sukawana, Batang, Kintamani, dan Salulung.
PURA PUCAK PENULISAN: Pura Pucak Penulisan sebagai pusat orientasi banua Gebog Domas dengan sub-sub pusat banua di Desa Sukawana, Batang, Kintamani, dan Salulung.

BALI EXPRESS : Warga Gebog Domas yang mengiringi Rsi Markandya datang ke Bali ini kemudian ditata bermukim berpencar ke dalam empat gugusan di empat penjuru (Nyatur Desa) disebut Kanca Satak.

Masing-masing gugus (Kanca) terdiri dari 200 (satak) KK yang menjadi bagian dari persekutuan desa pakraman yang disebut Gebog Domas pada masyarakat Bali Aga

Kanca satak Pura Dalem Balingkang meliputi wilayah Desa Les, Penutukan, Sambirenteng, Gretek dan Desa Tembok, yang berlokasi di Pantai Utara Kabupaten Buleleng di bawah Balingkang.

Sedangkan keanggotaan kanca satak di wilayah Bangli (Balingkang) meliputi Desa Pinggan dan Desa Siakin.

Tokoh Adat Desa Pinggan, I Made Seden, 56, mengatakan, ada dua upacara yang dilakukan oleh kanca satak yaitu upacara pada Purnama Sasih Kalima di Pura Dalem Balingkang, dan Upacara di Pura Pegonjongan.

“Tradisi pemujaan terhadap Bhatara Dalem Balingkang dilaksanakan setiap satu tahun sekali, bertepatan dengan Purnama Kalima (kalender Bali) atau bulan Oktober (kalender Masehi), tiga puluh hari sebelum puncak upacara pada Purnama Kapat,” katanya.

Prosesi ini dilakukan sebagai salah satu penghormatan kepada sistem banua.

Seperti diketahui, Gebog Satak Sukawana sebagai pusat Gebog Domas di Pura Pucak Panulisan, beranggotakan Kanca Satak Dalem Balingkang.

Keterlibatan masyarakat Kanca Satak Sambirenteng dan Pinggan adalah pada saat pelaksanaan upacara Ida  Bhatara dari Alas Arum menuju Pura Dalem Balingkang.

Prosesi ini dilaksanakan pada tengah malam (tengah wengi), yang diusung (pundut) oleh Jero Mangku Gede Dalem Balingkang, Jero Mangku Desa Adat Sambirenteng dan muda-mudi (Daa Truna) Desa Adat Sembirenteng dan Pinggan yang masih suci (belum datang bulan/sukla).

Hal yang menarik lainnya, salah satu pemuda (truna) dari Desa Adat Sembirenteng mewakili (ngemuncukin) warga Pasek Gelgel. Sedangkan pemuda-pemuda lainnya berstatus pengayah dengan segala tata cara berpakaiannya.

Pada saat perjalanan menuju Pura Dalem Balingkang diiringi dengan gamelan gong reramon yaitu: kempul satu buah, kendang satu buah, cengceng tiga pasang.

Suatu hal yang unik dari prosesi ini adalah berjalan melalui jalan setapak di dalam hutan serta tidak diperkenankan untuk bersuara (ribut).

Prosesi berikutnya adalah upacara pamendak (penyambleh) di Jabaan Pura Tanggun Titi.

Usai upacara pamendak, Ida Bhatara menuju madya mandala pura untuk distanakan di Bale Pengaruman.

Untuk upacara yang dilakukan di Pura Pagonjongan di Banjar Gretek, seluruh masyarakat Kanca Satak wajib mengeluarkan biaya upacara, termasuk masyarakat Pinggan maupun Siakin.

“Di samping itu Pura Balingkang mempergunakan Pura Pagonjongan sebagai tempat melasti kalau ada upacara-upacara besar di Pura Dalem Balingkang,” paparnya.

“Dengan demikian ada suatu keseimbangan kewajiban antara kewajiban di Pura Dalem Balingkang maupun Pura Segara Pegonjongan,” tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#pura dalem balingkang #bali #Pura Pegonjongan #kanca satak #tradisi