Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sloka 13 Sarasamuscaya Ungkap Rahasia Karma, Jadi Panduan Hidup di Dunia

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 25 Oktober 2023 | 20:17 WIB
KARMA: Perbuatan baik atau buruk yang dilakukan di akhirat tidak berpahala sesuatu apapun, karena yang sangat menentukan adalah perbuatan baik atau buruk yang diperbuat pada masa sekarang.
KARMA: Perbuatan baik atau buruk yang dilakukan di akhirat tidak berpahala sesuatu apapun, karena yang sangat menentukan adalah perbuatan baik atau buruk yang diperbuat pada masa sekarang.

BALI EXPRESS -  Kesempatan lahir menjadi manusia sejatinya sangat utama. Kelebihan dari sisi kemampuan berpikir (idep), menjadi modal pokok bagi manusia dalam menjadikan dirinya sebagai makhluk utama.

Melalui idep, manusia mampu menentukan arah perbuatannya.

Terkait hal itu, Penyuluh Agama Hindu, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta, mengatakan, terkadang manusia hanya berpikir bahwa rekaman perbuatan akan berakhir bila hidupnya telah usai.

Menurutnya, pandangan seperti ini bertentangan dengan karma sradha yang secara esensial menyatakan bahwa rekaman karma adalah abadi adanya.

Lantas bagaimana penjelasan sastra terkait korelasi karma dengan penititas hidup sebagai manusia?

“Karma sekala manusia bersifat abadi. Rekaman dan nilai karma selama hidup di dunia nyata tidak hanya berlaku semasa manusia hidup, namun akan dijadikan bekal ketika kembali ke alam niskala atau Tuhan Yang Maha Esa,” imbuh Danu Tirta.

Rekaman karma inilah yang disebut dengan karma wasana.

Jika diibaratkan, alam semesta ini adalah “CCTV” yang merekam setiap karma manusia selama menjalani hidup di dunia.

Hasil rekaman karma ini tidak hanya dinikmati dan dapat dilihat saat ini, namun juga mengikuti atma ketika menghadap Sang Brahman.

Hal ini juga dijelaskan dalam sastra lain seperti Wrhaspati Tattwa.3 yang mengatakan bahwa:

Baca Juga: Andalkan Dua Sumur Tua, 95 KK di Besan Kesulitan Air Bersih 

“Wasana naranya karma ginawe nin janma iratra, nya ta bhinukti phalanya rin paratra ri janmanya muwah, yan ahala, yan ahayu, asin phalanya, kadi anganin dyun wawadah in hingu huwus hilan hingunya ikan dyun inasahan pinahalilan, kawkas, taya ambonnya, gandhannya rumaket irikan dyun, ndan yatika wasana naranya samankana tekan karma wasana naranya, yatika umuparenga irikan atma ya ta raga naranya, ikang wasana pwa dumadyaken ikan raga wa ta matanyan mahyu rin karma, harsa salwirikan karma wasana ikan wasana pwa ya duweg uparenga irikan atma.”

 

Terjemahannya:

Wasana artinya semua perbuatan yang telah dilakukan di dunia ini. Namun setiap orang akan mengecap akibat perbuatanya di alam lainnya, pada kelahiran nanti, apakah akibat yang baik atau yang buruk.

Apa saja perbuatan yang dilakukan pada akhirnya semua akan menghasilkan buah.

Hal ini adalah seperti periuk yang diisikan kemenyan. Walaupun kemenyannya sudah habis dan periuknya dicuci, namun bau kemenyan masih melekat di periuk itu.

Inilah yang disebut vasana. Seperti itu juga halnya dengan karma vasana. Ia ada pada atma. Ia melekat padanya, ia mewarnai atma.

“Dengan demikian, rekaman atas karma adalah aspek mutlak dalam pandangan Hindu yang menentukan kehidupan saat ini maupun di masa mendatang dari manusia,” ucapnya.

“Berpijak dari makna Sārasamuscaya Sloka 13 setidaknya memberikan pertimbangan bagi manusia untuk selalu mengutamakan subha karma,” pungkasnya.

Baca Juga: Dilantik Jadi Mentan, Amran Sulaiman Resmi Gantikan Syahrul Yasin Limpo 

Danu menambahkan bahwa subha karma itu perbuatan baik. Mengapa berbuat baik ? Karena Hindu mempercayai bahwa arah atma manusia nantinya akan ditentukan oleh perbuatannya.

Perbuatan buruk mengantarkan atma terlahir dengan kualitas yang lebih buruk dari manusia.

Begitu juga sebaliknya, perbuatan baik memberikan jalan bagi atma menjadi manusia yang lebih berkualitas bahkan mencapai moksa.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #Sarasamuscaya #panduan #sloka 13 #hindu #karma #tradisi