BALI EXPRESS - Gebog Satak Pura Indrakila, Desa Dausa, Kecamatan Kintamani juga menjadi salah satu pusat religi. Upacara yang secara rutin dilakukan oleh masyarakat Gebog Satak Indrakila adalah pujawali di Pura Bukit Indra Kila yang diselenggarakan pada sasih kapat.
Jero Lingsir I Wayan Darmawan Pura Indrakila menjelaskan, pujawali atau upacara di Pura Indrakila secara khusus belum ditemukan sumbernya.
Upacara dilakukan setiap tahun sekali pada bulan Purnama Kapat yang mempergunakan sekor kerbau yang juga disebut “jero gede”.
Tatanan upacaranya disebut mangun urip, mirip seperti apa yang dilakukan masyarakat Bali Aga di Pura Pucak Penulisan dan Dalem Balingkang
“Masyarakat Gebog Satak Indrakila bahu-membahu untuk membangun tempat suci Indrakila dengan segala upacaranya. Upacara dengan segala sarana-prasarananya dilakukan secara bergotong-royong baik melalui urunan maupun atos yang dihaturkan,” katanya.
Tidak kalah pentingnya adalah peran kepemimpinan ulu apad, sistem Gebog Satak Indrakila.
Walaupun sistem kepemimpinan ini tidak secara ketat masih berlaku, akan tetapi menyesuaikan dengan sistem baru yang berdasarkan sastra agama.
Di Pura Indrakila, sebagai pemuput upacara adalah seorang sulinggih. Selanjutnya pada saat menghaturkan upacara piodalan dipuput oleh Jero Bayan.
Walaupun ada kelonggaran terhadap pelaksanaan keagamaan di Pura Indrakila, namun ada hal yang perlu diperhatikan bagi mereka yang datang dan bertempat tinggal di wilayah Gebog Satak Indrakila.
“sang sapa sira ugi turmaning taler sang wiku sane rawuh lan jenek ring wewidangan Hyang Api, gunung umintang patut satinut ring saparikrama karma gebog satak Pura Indrakila”
Artinya: bagi siapa saja termasuk pendeta suci yang datang dan bertempat tinggal di wilayah Hyang Api, Gunung Humintang wajib mengikuti tatacara bermasyarakat sesuai dengan adat istiadat Gebog Satak Pura Indrakila.
“Upacara religi yang utama dilakukan oleh masyarakat Gebog Satak Indrakila adalah upacara piodalan pada saat Purnama Kapat dengan mengorbankan satu ekor kerbau yang disebut jero gede,” paparnya.
Ia menambahkan, upacara ini merupakan upacara utama. Karena itu, masyarakat pendukung dari kelompok gebog satak Indrakila bahu- membahu dalam pelaksanaannya yang dipimpin oleh Jero Lingsir Pura Indrakila.
Masyarakat gebog satak yang terdiri dari 9 desa adat dan kurang lebih 1.700 KK pengempon pura telah membangun jaringan-jaringan sosial melalui upacara agama, sehingga tidak pernah terjadinya konflik intern maupun antar kelompok gebog satak.
“Walaupun ada perbedaan tradisi di antara gebog satak, akan tetapi setelah mereka terjun ngayah di Pura Indrakila, mereka tidak membawa tradisinya masing-masing, melainkan tunduk kepada tradisi di Pura Indrakila,” ungkapnya.
Editor : Nyoman Suarna