BALI EXPRESS - Terlahir sebagai manusia merupakan sebuah kelahiran mulia. Karena manusia dianggap sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya karena manusia memiliki Tri Pramana. Yaitu Bayu (Tenaga), Sabda (Suara) dan Idep (Pikiran).
Pesan ini tertuang dalam Sloka 15 Sarasamuscaya, yang berbunyi:
“Yo durlabhataram prapya manusyam lobhato narah, Dharmavanta kamatma bhavet sakalavancitah”
Terjemahan : Orang yang terlahir sebagai manusia, yang sangat sulit, dan karena keserakahan serta telah menyerahkan dirinya pada nafsu, datang untuk mengabaikan dharma, dia benar – benar kehilangan segalanya.
“Hana pwa tumenung dadi wwang, wimukha ring dharmasadhana, jenek ring artha kama arah, lobhambeknya, ya ika kabancana ngaranya.”
Terjemahan : adalah yang dijumpai ketika menjadi manusia, menyimpang dari perbuatan dharma/bajik, sebaliknya, ia sangat senang mengejar harta dan kepuasan nafsu, dan pikirannya tamak. Orang seperti itu dikatakan orang sesat.
Orang yang terlahir sebagai manusia, yang sangat sulit, dan karena keserakahan serta telah menyerahkan dirinya pada nafsu, datang untuk mengabaikan dharma, dia benar-benar kehilangan segalanya.
Pesan ini menggambarkan bahwa kelahiran sebagai manusia adalah suatu anugerah yang mulia.
Namun, dengan anugerah tersebut juga datang tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan dalam hidup.
Dalam konteks Hindu, Tri Pramana (Bayu, Sabda, dan Idep) memungkinkan manusia untuk membedakan antara yang benar dan yang salah.
Namun, menjadi manusia bukanlah perkara mudah karena kelahiran sebagai manusia ditentukan oleh Karma Phala, yaitu hasil dari perbuatan baik dan buruk di masa lalu.
Ada tiga jenis Karma Phala: Sancita Karma Phala (hasil perbuatan di masa lalu yang kita nikmati saat ini).
Prarabda Karma Phala (hasil perbuatan saat ini yang kita nikmati saat ini).
Selanjutnya Kriyamana Karma Phala (hasil perbuatan saat ini yang akan kita nikmati di masa depan).
Luh Sonia Candra Juwita, seorang penyuluh Agama Hindu, menjelaskan bahwa saat Atman (percikan ilahi) menjalani kehidupan manusia, ia seringkali lupa akan jati dirinya karena terlalu terlibat dalam dunia duniawi.
Manusia dipengaruhi oleh tiga sifat, yaitu satwam (kebijaksanaan dan ketenangan), Rajas (ambisi dan energi), dan Tamas (kemalasan).
Sifat-sifat ini memengaruhi tindakan manusia.
Jika sifat baik (daiwi sampad) mendominasi, manusia akan bijaksana dan menjalani dharma (kebajikan).
Namun, jika sifat buruk mendominasi, manusia akan menjadi tamak, sombong, dan sesat.
Keserakahan, nafsu yang tak terkendali, dan pengabaian terhadap dharma dapat membuat manusia kehilangan segalanya, baik dalam kehidupan ini maupun setelahnya.
Orang yang sesat selalu menyimpang dari ajaran dharma, hanya mengejar kekayaan demi kesenangan duniawi, dan pikirannya penuh dengan ketamakan.
Oleh karena itu, perbuatan buruk akan menghambat manusia mencapai tujuan hidupnya, yakni mencapai moksha (pembebasan spiritual) dan kesejahteraan dunia.
Oleh karena itu menjaga keseimbangan antara tiga sifat dan mematuhi ajaran dharma sangat penting dalam mencapai tujuan hidup yang sejati.
Editor : Nyoman Suarna