BALI EXPRESS - Penggunaan banten sesayut dalam ritual tergolong vital. Tidak terkecuali dalam ritual Magedong Gedongan.
Banten Sesayut sarat makna filosofis, sehingga acapkali digunakan dalam ritual manusa yadnya.
Upacara magedong gedongan ditujukan kepada si cabang bayi yang sedang ada di dalam kandungan dan merupakan upacara yang pertama setelah kehamilan berumur 5-7 bulan.
Kehamilan di bawah 5 bulan dianggap jasmani si bayi belum sempurna dan tidak boleh diberi upacara manusa yadnya
Tujuan dari upacara magedong gedongan ini yaitu untuk membersihkan dan memohon keselamatan jiwa raga si bayi agar kelak menjadi orang yang berguna di masyarakat.
Selain itu juga untuk memohon keselamatan bagi si ibu agar dikuatkan sampai dengan melahirkan bayi ke dunia.
Sarana upacara magedong gedongan biasanya dilakukan di permandian.
Sarati Banten asal Kubutambahan, Jro Ketut Utara mengatakan, banten sesayut merupakan sarana penting yang dipersembahkan saat upacara megedong-gedongan.
Sesayut merupakan sthna dari ista dewata untuk memohon kerahayuan agar orang yang melaksanakan yadnya.
Tujuannya yaitu agar terhindar dari mala, gangguan, atau penyakit dan sebagainya.
Kulit sesayut bentuknya sama dengan tamas, hanya bedanya di tengah-tengah kulit sesayut terdapat isehan.
Dikatakan Jro Utara, ada dua jenis sampian sesayut, yaitu sampian sesayut untuk banten yang menggunakan tamas, dan sesayut yang menggunakan nampan atau ngiu.
Sampian sesayut untuk banten tamas hampir sama dengan sampian plaus yang kedua tangkihnya digabungkan.
Sedangkan sesayut yang menggunakan nampan bentuknya bundar dengan menggunakan potongan jejahitan sebanyak 8 buah.
Dalam upacara pagedong-gedongan nyama catur dan nyama bajang inilah yang harus diperhatikan agar dapat memelihara si bayi dalam kandungan dengan sebaik-baiknya.
Nyama catur dan nyama bajang inilah yang membangun gedong itu untuk tempat si bayi mendapatkan hidup dalam kandungan ibunya. Setiap upacara yang dilaksanakan oleh umat Hindu akan memakai Banten Sesayut atau Banten Tatebasan yang berbeda-beda sesuai dengan harapan dan tujuan upacara yang dilaksanakan.
Begitu juga dalam upacara Dewa yajñya akan memakai Banten Sesayut sesuai dengan Ista Dewata yang akan di sthanakan atau di puja.
Pada umumnya banten sesayut yang digunakan pada upacara magedong-gedongan, yaitu Banten Sesayut Tulus dadi, yang berisikan sega bang, sega cemeng (ireng), maka penek, iwak ayam biing pinecel tinumpangan ring sega, saha raka who-wohan, sedah anut dina, tatebusan abang cemeng, jinapit tunggal.
Banten Sesayut Katututan, yang berisikan tumpeng 2, iwak sarwa pawitra, ingangge maka runtutan banten panaur sasangi yaning ngadegang sanggar tutuan lan panggungan.
Banten Sesayut pamahayu Tuwuh, yang berisikan kanggen magedonggedongan, aled kulit sayut, madaging penek/tumpeng kuning, iwak ayam 1, woh-wohan, jaja, sampian nagasari, penyeneng, tatebus tridatu.
“Banten pokok yang digunakan dalam upacara magedong-gedongan ini adalah banten peras dakṣina dan ajuman untuk munggah di sanggah pesaksi. Banten untuk si ibu yang hamil biyakala,
prayaścitta dan banten tataban seperti peras penyeneng tulung dan sesayut. Banten tersebut dilengkapi dengan banten sesayut pamahayu tuwuh, dan sesayut tulus dadi serta caru pagedong-gedongan.
“Banten sesayut pemahyu tuwuh artinya banten sebagai media permohonan kepada tuhan agar si bayi mendapatkan kekuatan untuk mencapai keselamatan dengan umur panjang. Pamahayu artinya mendapatkan keselamatan dan tuwuh artinya umur,” katanya.
Sesayut tulus dadi berarti agar benar-benarlah bayi itu tumbuh dengan lancar sampai menjadi bayi yang siap lahir ke dunia ini untuk memperbaiki mutu hidupnya. Agar bayi itu tumbuh dan benarbenar jadi (tulus dadi) disimbolkan juga dalam banten caru.
Banten caru pagedong-gedongan itu dibuat dengan alas daun talas diatasnya di isi nasi wong-wongan yang berbentuk bayi. Kemudian kepalanya dibuat dari nasi hitam, tangannya dibuat dari nasi putih, perutnya dari nasi berumbun, dadanya dari nasi putih.
Sedangkan tulang panggul sampai ke lutut dari nasi merah dan kakinya dari nasi kuning, lauk pauknya dari bawang jahe, uyah areng, sampiannya menggunakan daun andong merah sebagai sirih, daun talas, kapurnya menggunakan abu dan pinangnya dari buah enau.
Banten tersebut disertai dengan banten soroan alit yaitu peras penyeneng, tulung dan sesayut. Waktu menghanyutkan banten caru yang menggambarkan bentuk bayi itu kepalanya menghadap ke hilir sungai.
Hal ini sebagai suatu doa agar bayi tersebut lahir normal dimana yang pertama keluar adalah kepalanya.
“Waktu pelaksanaan upacara dilakukan di sebuah permandian yang dibuat khusus untuk upacara itu atau permandian anyar,” imbuhnya.
Editor : Nyoman Suarna