BALI EXPRESS – Asta Kosala Kosali merupakan sebuah cara penataan lahan untuk tempat tinggal dan bangunan suci. Penataan bangunan biasanya menggunakan anatomi tubuh manusia.
Dikutip dari https://crown764.wordpress.com/2020/08/19/asta-kosala-kosali-pada-bangunan-rumah-di-bali, dijelaskan, pengukuran lahan untuk tempat tinggal didasarkan pada ukuran tubuh, tidak menggunakan meter.
Dalam Asta Kosala Kosali juga dipaparkan jenis-jenis pengukuran, di antaranya Musti (ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas).
Kedua adalah Hasta (ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka).
Ketiga ada Depa (ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan).
Kemudian terdapat konsep penataan rumah di Bali juga didasarkan oleh Bhuana Agung (Makrokosmos) dan Bhuana Alit (Mikrokosmos).
Pertama ada Bhur alam semesta, tempat bersemayamnya para dewa.
Bwah, alam manusia dan kehidupan keseharian yang penuh dengan godaan duniawi yang berhubungan dengan materialism.
Sedangkan Swah, alam nista yang menjadi simbolis keberadaan setan dan nafsu yang selalu menggoda manusia untuk berbuat menyimpang dari dharma.
Selain itu, Asta Kosala Kosali juga berpatokan pada Nawa Sanga (9 mata angin).
Setiap bangunan itu memiliki tempat sendiri yaitu dapur.
Oleh karena dapur berhubungan dengan api, maka dapur ditempatkan di selatan.
Tempat sembahyang karena berhubungan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, maka ditempatkan di timur arah matahari terbit.
Sedangkan sumur sebagai sumber air ditempatkan di utara, mengacu pada gunung.
Sementara tanah yang dipilih untuk lokasi membangun perumahan diusahakan tanah yang miring ke timur atau miring ke utara.
Editor : Nyoman Suarna