Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sloka 17 Sarasamuscaya: Dharma, Kunci Menuju Kesejahteraan dan Kedamaian di Dunia

Putu Agus Adegrantika • Kamis, 2 November 2023 | 03:00 WIB
NAFSU: Nafsu yang dimiliki manusia sebagian besar mampu dipenuhi dengan harta. Hal inilah yang menyebabkan manusia ingin memperoleh harta sebanyak-banyaknya meski bertentangan dengan ajaran dharma.
NAFSU: Nafsu yang dimiliki manusia sebagian besar mampu dipenuhi dengan harta. Hal inilah yang menyebabkan manusia ingin memperoleh harta sebanyak-banyaknya meski bertentangan dengan ajaran dharma.

BALI EXPRESS - Berbuat dharma menjadi harapan utama terhadap manusia sebagai makhluk mulia.

Kedamaian dan kesejahteraan hidup di dunia mampu terwujud apabila manusia konsisten berbuat dharma.

Meskipun terikat oleh kebutuhan duniawi, namun sastra mengharapkan manusia untuk tetap berpegang dalam jalan dharma ketika memenuhi kebutuhan duniawinya.

Meski demikian, banyak manusia yang masih sulit berbuat dharma.

Terkait hal itu, kitab Sarasamuscaya Sloka 17 yang diterbitkan Ditjen Bimas Hindu menyebutkan:

Nihan mata kami mangke, manawai, manguwuh, mapitutur, ling mami, ikang artha, kāma, malamakĕn dharma juga ngulaha, haywa palangpang lawan dharma mangkana ling mami, ndatan juga angrĕngö ri haturnyan ewĕh sang makolah dharmasādhana, apa kunang hetunya”

 Baca Juga: Tagar PrabowoToxic Trending di Twitter, Begini Kata Warganet

Terjemahannya:

“Itulah penyebab kami sekarang, menawarkan, meneriakkan, dan mengingatkan ajaranku ini ‘Tentang mencari artha dan nafsu yang berlandaskan dharma’. Begitulah ucapanku. Namun demikian, tidak ada yang menghiraukan, oleh karena mereka berpendapat bahwa sulit orang melakukan perbuatan berlandaskan dharma. Apakah konon penyebabnya ?”

Sarasamuscaya Sloka 17 pada intinya mengetengahkan bahwa berbuat dharma harus selalu digaungkan.

Berbuat dharma ditawarkan baik oleh sastra maupun manusia.

Besarnya dorongan agar manusia berbuat dharma,  karena ada keyakinan bahwa dharma adalah landasan damai dan sejahtera secara universal bagi kehidupan di dunia ini.

Semakin banyak manusia melaksanakan dharma, semakin luas pula kesempatan hidup damai dan sejahtera secara jasmani maupun rohani.

Baca Juga: Anti Ribet Kirim Uang ke Luar Negeri, BRImo Punya Fitur Transfer Internasional

Penyuluh Agama Hindu, Kemenag Kabupaten Tabanan, I Made Danu Tirta, menjelaskan bahwa hidup manusia di dunia ini lebih cenderung mengarah pada perolehan harta dan pemenuhan nafsu.

Nafsu yang dimiliki manusia sebagian besar mampu dipenuhi dengan harta.

Hal inilah yang menyebabkan manusia yang hidup di dunia ini ingin memperoleh harta sebanyak-banyaknya. Harapannya, setiap tujuan hidup yang sejatinya adalah planning nafsu dapat terpenuhi oleh harta itu sendiri.

Perolehan terhadap harta dan pemenuhan nafsu di dunia juga wajib didasarkan atas dharma. Tujuannya agar harta yang didapatkan memberikan vibrasi positif ketika dimanfaatkan untuk memenuhi keinginan.

Di sisi lain, harta tersebut harus memiliki asas keamanan dan kenyamanan ketika dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Begitu juga halnya dengan nafsu atau keinginan, hendaknya ditujukan pada tujuan-tujuan kebaikan, baik terhadap hidup pribadi maupun orang lain.

“Dengan demikian, harta sebagai objek pemenuhan dan nafsu sebagai sasaran pemenuhan, secara bersama dijiwai oleh dharma itu sendiri,” jelas Danu.

Namun realitas saat ini, manusia mendapatkan harta dan memenuhi nafsu cenderung berada di jalur adharma.

Buktinya, masih ada aksi adharma dalam memperoleh harta seperti mencuri, memeras, dan sebagainya.

Begitu juga halnya dengan nafsu. Saat ini banyak manusia yang memiliki keinginan-keinginan untuk  melakukan hal buruk. Karena hal buruk dipandang sebagai kesenangan dan mendatangkan kebahagiaan sendiri.

Editor : Nyoman Suarna
#Sarasamuscaya #kedamaian #kesejahteraan #sloka 17 #Dharma