BALI EXPRESS - Masyarakat pangempon Pura Puser Saab yang terletak di Banjar Patyen, Dehan, Desa Batumadeng, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung, Bali bagian timur memiliki tradisi unik menjaga kawasan hutan.
Jero Mangku Jaya menjelaskan di Pura Puser Saab banyak ditemukan arca (prelingga).
Keajaiban dari arca prelingga tersebut adalah jumlahnya bisa banyak dan bisa sedikit saat piodalan
Ini terjadi saat pemangku menghias prelingga Ida Betara.
Biasanya karawista sudah dihitung sesuai jumlah prelingga. Namun setelah dipasang, jumlah karawista bisa berkurang atau lebih.
Kejadian ini biasanya terlihat pada Sasih Kawulu. Pada saat itu jumlah arca yang muncul lebih banyak, sedangkan pada Sasih Ketiga jumlahnya sedikit.
“Kami sangat menyakini bahwa pura ini memang tenget (angker). Hutannya juga diyakini memiliki nilai kesakralan yang sangat tinggi,” jelasnya.
Keanehan terhadap jumlah pralingga ini dikaitkan dengan mitos keangkeran hutan Pura Puser Saab.
Sakralisasi terhadap hutan dengan menyebut sebagai kawasan angker, kata Jero Mangku Jaya, adalah untuk keberlanjutan hutan dan kelangsungan hidup masyarakat.
Ia mengatakan, mitos tenget (angker) di sekitar lingkungan hutan Pura Puser Saab merupakan penjabaran konsep Tri Hita Karana.
Yakni, hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), hubungan manusia dengan sesame manusia (pawongan) dan parahyangan atau hubungan manusia dengan lingkungan (palemahan).
“Bentuk penghormatan kepada alam di Pura Puser Saab diwujudkan dengan ritual mecaru. Karena lingkungan memiliki arti yang sangat penting dan mempunyai hubungan yang erat dengan alam sebagai sumber kehidupan,” paparnya.
Kelompok masyarakat yang hendak memanfaatkan hasil hutan untuk kepentingan ritual maupun untuk bangunan suci harus menyampaikan kepada desa adat dan dilakukan ritual terlebih dahulu sebelum dilakukan pengambilan hasil hutan.
Jika mengambil isi hutan tanpa izin, akan kena sanksi adat berupa denda. Namun sesuai keyakinan, juga bisa menyebabkan gangguan magis atau kesambet karena dicari makhluk astral penunggu hutan bernama Bake, Gamang, Tonye, dan Banaspati.
“Selain itu ada budaya tabu, yaitu tidak boleh mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas di dalam areal hutan, sebagai bentuk rasa hormat kepada para makhluk astral penunggu hutan,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna