Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bukan Karangan, Puja Tri Sandya Disusun dari Mantra Suci Hindu: Ini Maknanya

Putu Agus Adegrantika • Sabtu, 4 November 2023 | 17:49 WIB
PUJA TRI SANDYA: Umat Hindu melaksanakan Puja Tri Sandya. Mantra dalam Puja Tri Sandya bukan merupakan karangan, tetapi disusun dari mantra-mantra dalam kitab suci agama Hindu.
PUJA TRI SANDYA: Umat Hindu melaksanakan Puja Tri Sandya. Mantra dalam Puja Tri Sandya bukan merupakan karangan, tetapi disusun dari mantra-mantra dalam kitab suci agama Hindu.

BALI EXPRESS – Puja Tri Sandya merupakan langkah pelaksanaan yadnya yang sangat simple dilakukan oleh umat Hindu. Sebab dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.

Makna Tri Sandya dalam Kitab Agastya Parwa berbunyi : “… agelema ta sirāmujā, matrisandhyā, toyasnāna, bhasmasnāna, mantrasnāna.”

Tri artinya tiga, sandya berasal dari akar kata sam (berhubungan) dan di (ditaruh) yaitu hubungan dua keadaan atau benda seperti hubungan antar waktu atau antar ruang.

Sandya artinya hubungan antara waktu. Pertemuan antara waktu malam dengan pagi, antara waktu pagi dengan siang dan antara waktu siang dengan malam.

Tiga waktu Tri Sandya: pagi hari saat matahari terbit disebut “Brahma Muhurta” bertujuan menguatkan “guna Sattvam” menempuh kehidupan dari pagi hingga siang hari.

Siang hari sebelum jam 12 sembahyang bertujuan untuk mengendalikan “guna Rajas” agar tidak menjurus ke hal-hal negatif.

Sore hari sebelum matahari tenggelam, bertujuan untuk mengendalikan “guna Tamas” yaitu sifat-sifat bodoh dan malas.

Penyuluh agama Hindu, Ni Luh Cesi menjelaskan, puja Tri Sandya adalah persembahyangan pada saat pergantian waktu (pagi-siang-malam) yang bertujuan untuk menghilangkan aspek-aspek negatif yang ada pada manusia.

Bait-bait dalam Tri Sandya disusun dari intisari mantra-mantra suci Weda, bukan dikarang.

“Intisari dari seluruh mantra-mantra suci Weda  paling sesuai digunakan pada zaman Kali,” ujarnya.

Sebab, manusia dalam waktu hidup yang singkat harus berlomba dengan waktu demi memenuhi kebutuhan jasmaninya sehingga manusia tak punya banyak waktu untuk memenuhi kebutuhan rohani seperti yang dilakukan oleh Mahārṣi terdahulu dengan melakukan tapa cukup lama.

Puja Tri Sandya, paparnya, telah mencakup segala jenis aspek dan pujian kepada Brahman atau Tuhan Yang Maha Esa.

“Dengan melakukan Puja Tri Sandya berarti kita telah melakukan Japa, karena kita telah mengucapkan mantra suci ‘Om’ dalam setiap baitnya yang berarti kita telah menyebut akṣara suci Tuhan secara berulang,” papar Cesi.

Kata “Om” memiliki arti “Brahman”.

Dengan melakukan Puja Tri Sandya berarti kita telah mengakui dan memuji keagungan Tuhan dalam bentuk pengucapan “mantra Gayatri” yang terletak pada bait pertama sumber bait dalam Tri Sandya.

Disebutkan, bait pertama bersumber dari salah satu Mantram Gāyatrī yang terdapat dalam kitab Rg Veda, III.62.10. 

Pada bait mantram dalam kitab Rg Veda, kata bhur bhuvah svah tidak ada. Tambahan kata bhur bhuvah svah itu terdapat dalam kitab Yajur Veda Putih, 36.3.

Mantra Gāyatrī atau Gāyatrī Mantram adalah mantram yang paling utama dan paling mulia di antara semua mantra.

Bait kedua bersumber dari salah satu rangkaian mantram yang panjang disebut Catur Veda Sirah (Empat Veda Kepala).

Catur Veda Sirah adalah salinan dari kitab Narayana Upanisad untuk memuja Tuhan sebagai Narayana, Tuhan yang suci tanpa noda.

Bait ketiga bersumber dari Siwa Astawa, puja kedua, yaitu mantram pemujaan kepada Dewa Siwa sebagai sebutan Tuhan dalam berbagai sebutan.

Bait keempat, kelima dan keenam bersumber dari kumpulan mantra yang sama yaitu Ksamamahadevastuti 2-5, tersebar dalam Wedasanggraha.

Bait keempat adalah sebagai pengakuan bahwa diri serba hina dan memohon agar Tuhan melindungi dan membersihkan dari segala noda.

Bait kelima, pemuja memohon ampun dan memohon agar dibebaskan dari semua papa, semua kehinaan dan dosa.

Pemuja mohon untuk dijaga karena Tuhan penjaga semua makhluk dan penguasa tertinggi atas segala yang ada.

Bait keenam, pemuja memohon ampun atas segala dosa dari anggota badan, kata-kata dan pikiran.

Struktur tiap bait dalam Tri Sandya Bait keempat adalah pengakuan. Bait kelima dan keenam adalah permohonan dan bait pertama, kedua dan ketiga adalah pujian.

Editor : Nyoman Suarna
#Suci #hindu #Tri Sandya #mantra #Puja