KARANGASEM, BALI EXPRESS- Banjar Langsat, Desa Rendang, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali dulunya menjadi pusat keramaian masyarakat ketika merayakan Hari Raya Galungan.
Namun, seiring berkembangnya zaman, masyarakat malah jarang berkumpul saat Hari Raya Galungan.
Untuk mengembalikan masa keramaian saat Hari Raya Galungan itu, beberapa tokoh Langsat menggagas sebuah sarana hiburan yang bernama Gerudug Langsat.
Gerudug Langsat ini juga memiliki filosofi pentingnya aturan sebagai penengah dari dua orang yang sedang berselisih paham atau magerudugan.
Gerudug Langsat sendiri merupakan sebuah perang dua orang yang saling pukul menggunakan senjata daun langsat dan membawa penangkis berupa nyiru kecil.
Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Hari Raya Galungan. Itu dilakukan di pertigaan jalan yang ada di kawasan Banjar Langsat.
Salah satu penggagas tradisi Gerudug Langsat, I Nengah Kariasa menyebut tradisi tersebut mulai berlangsung sejak 2016.
Di samping untuk membuat keramaian, tradisi itu juga disebut untuk membuatkan aturan yang harus diikuti karena sebelumnya sering terjadi pertentangan di sana.
“Agar kita taat aturan. Biar tidak ngotot, ini mengaku benar, itu mengaku benar, sehingga akhirnya terjadi pertentangan. Kita semua kan harus taat aturan,” ujar Kariasa yang juga sebagai Perbekel Desa Rendang, pada Jumat, 3 November 2023.
Kariasa menambahkan, siapapun boleh mengikuti tradisi Gerudug Langsat ini, baik itu anak-anak, remaja, dewasa, ataupun perempuan sekalipun.
Dua orang yang seumuran akan saling pukul menggunakan daun langsat.
“Filosofinya sederhana, jika pikiran, perkataan dan perbuatan yang berseberangan dari dua orang dibebas lepaskan, pasti akan menimbulkan kegaduhan (magerudugan), sehingga dibutuhkan hukum atau aturan yang menjadi pengetengah, kegaduhan itu disimbolkan dengan perkelahian dua orang yang bersenjatakan daun langsat dan bertameng nyiru kecil, mereka berperang silih berganti, anak anak , remaja, laki-laki dewasa hingga para perempuan berlaga silih berganti,” jelasnya.
Kariasa menerangkan, digunakannya daun langsat dan tameng nyiru karena keduanya mudah lepas dan rusak.
“Karena daun langsat jika dipukulkan gampang lepas, nyiru juga kalau dipukul keras juga gampang rusak. Filosofinya adalah, segala pikiran, perkataan, dan perbuatan yang tanpa aturan dipakai berdebat, pada akhirnya akan rapuh dan gagal,” terangnya.
Untuk mengakhiri tradisi yang diselenggarakan pada rahina Buda Kliwon Dungulan tersebut, akan muncuk barong bangkal sebagai penengah dan penyomya tradisi pada saat itu.
“Munculah pengetengah berupa barong bangkal sebagai simbol aturan yg mesti ditaati bersama dan kegiatan gerudug langsat pun berakhir. Ini juga menandakan barong bangkal akan mulai ngelawang mulai besok paginya,” pungkasnya. (*)
Editor : I Made Mertawan