BALI EXPRESS – Tradisi Nampah Penyu serangkaian pujawali di Pura Mas Penyeti yang terletak di Kelurahan Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng dilaksanakan dengan tahapan persiapan yang tergolong panjang.
Diawali oleh para istri atau krama perempuan Hindu Bali desa setempat mempersiapkan berbagai jejahitan (rangakaian janur) dan dilanjutkan sampai merangkainya menjadi banten.
Sedangkan krama lanang bertugas mempersiapkan tempat upacara, seperti membuat taring, menyiapkan berbagai tempat upakara yang digunakan sebagai tempat banten di setiap pelinggih-pelinggih pura.
Pembuatan tempat banten ini dikarenakan sarana yang akan dipersembahkan di setiap pelinggih tidak memungkinkan untuk dimasukkan ke dalam pelinggih karena bantennya terlalu banyak.
Selain persiapan berupa tempat upakara, tempat upacara juga dipersiapkan berupa pemasangan wastra.
Setiap pelinggih mempunyai wastra-wastra masing-masing. Sehingga yang mempunyai tugas untuk memasang wastra ini adalah para pengayah lanang.
Selain itu juga dilakukan pemasangan tedung pada setiap pelinggih dan di tempat-tempat tertentu.
Dalam proses nampah (penyembelihan) penyu, darah penyu tersebut diambil dan akan digunakan sebagai bagian dari sarana yadnya yang akan dipersembahkan.
Nampah Penyu dilaksanakan dengan proses pengambilan darah penyu yang dilakukan oleh masyarakat.
Proses nampah (penyembelihan) penyu diawali dengan berbagai tahap penyucian.
Saat memotong penyu disertai mantra yang berbunyi “Om pasu pasa ya widmahe tuan ceda ya dimahe, tanno Jiwah Pracodayat.”
Jika diterjemahkan berarti “Om Hyang Widhi, binatang ini kubunuh, semoga disucikan jiwanya,” paparnya.
Setelah tahap penyembelihan penyu, dilanjutkan dengan pengolahan daging penyu dijadikan sate sebagai persembahan, seperti sate tusuk, sate nyuh dan sate kekuwung.
Sate tusuk dibuat dengan dengan menyiapkan daging dengan cara direbus dan dipotong kecil-kecil dan ditusukkan pada bambu yang sudah di siapkan dan diisi tiga potongam daging dalam satu tusuk sate.
Sama dengan sate nyuh lainnya, pembuatan sate penyu dilakukan dengan mencincang lembut daging penyu lalu diisi kelapa parut serta bumbu yang sudah disiapkan secara merata.
Kemudian adonan dililitkan di bambu yang sudah disiapkan.
Sate kekuwung dibuat dari olahan kulit penyu yang direbus. Lalu ditusukkan ke bambu yang sudah di siapkan.
Penggunaan olahan daging penyu ini menjadi sebuah keharusan saat piodalan di Pura Mas Penyeti.
Editor : Nyoman Suarna