BALI EXPRESS – Sebagai bagian dari tradisi Hindu Bali, penggunaan olahan daging penyu ini menjadi sebuah keharusan saat piodalan di Pura Mas Penyeti di Kelurahan Banjar Tegal, Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng.
Daging penyu yang telah diolah kemudian ditata bersamaan dengan sesajen yang akan dihaturkan ke hadapan pelinggih Dewa Ngurah Gede.
Prosesi ini seluruhnya dipimpin oleh jro pengempon pura.
Kelian Desa Adat Banjar Tegal Ketut Artawan mengatakan, setelah masyarakat selesai mengerjakan olahan dari daging penyu, salah satu krama Desa Adat Banjar Tegal menata sesajen sebagai sarana utama dalam prosesi.
Setelah rangkaian upacara pujawali dilaksanakan, kemudian dilakukan makan bersama.
Dalam acara makan bersama tersebut, sebagian lawar dipersiapkan untuk seluruh masyarakat Desa Adat Banjar Tegal.
Makan bersama ini merupakan wujud syukur bahwa umat telah mendapat berkah atau anugrah dari Dewa Wisnu (Dewa Ngurah Gede) sebagai manifestasi Tuhan.
Makanan (ajengan) yang akan dikonsumsi adalah sisa dari daging penyu yang digunakan dalam upacara.
Ini diyakini sebagai rasa syukur masyarakat Desa Adat Banjar Tegal karena telah berhasil melangsungkan tradisi Nampah Penyu tanpa halangan.
“Setelah proses upacara menghaturkan banten dan makan bersama selesai, dilanjutkan dengan upacara persembahyangan bersama," ucapnya.
"Persembahyangan ini merupakan hal inti yang dilakukan oleh mayarakat Desa Adat Banjar Tegal,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna