BALI EXPRESS – Sesuai tradisi Hindu di Bali, menggunakan busana adat ke pura diawali dengan menggunakan kamen.
Namun ada beberapa ketentuan yang patut dipahami tentang penggunaan kamen.
Pertama adalah soal lipatan kain/kamen (wastra). Bagi laki-laki lipatan kamen melingkar dari kiri ke kanan karena laki-laki merupakan pemegang dharma.
Tinggi kamen laki-laki kira-kira sejengkal dari telapak kaki untuk memudahkan dalam melangkah panjang.
Kamen laki-laki memiliki kancut (lelancingan) dengan ujung yang lancip dan sebaiknya menyentuh tanah (menyapuh jagat). Ujungnya yang ke bawah sebagai simbol penghormatan terhadap Ibu Pertiwi.
Kancut juga merupakan simbol kejantanan.
Untuk persembahyangan, kita tidak boleh menunjukkan kejantanan karena harus dikendalikan.
Namun saat ngayah, kejantanan itu boleh ditunjukkan.
Untuk menutup kancut sebagai lambang kejantanan, maka laki-laki harus menggunakan saput atau kampuh.
Tinggi saput atau kampuh kira-kira satu jengkal dari ujung kamen. Selain untuk menutupi kejantanan, saput juga berfungsi sebagai penghadang musuh dari luar.
Saput melingkar berlawanan arah jarum jam (prasawya).
Terkait etika berbusana kaum pria, Penyuluh Agama Hindu, Ni Luh Putu Deny Purwanthi memaparkan, setelah saput dilanjutkan dengan menggunakan selendang kecil (umpal) yang bermakna sebagai upaya pengendalian hal-hal buruk.
Baca Juga: Prediksi Skor dan Pemain Bali United vs Central Coast Mariners: Saatnya Balas Dendam
“Pada saat inilah tubuh manusia sudah terbagi dua yaitu Butha Angga dan Manusa Angga,” jelasnya.
Umpal diikat menggunakan simpul hidup di sebelah kanan, sebagai simbol pengendalian emosi dan menyama.
Pada saat putra memakai baju, umpal harus terlihat sedikit agar pada saat kondisi apapun siap memegang teguh dharma.
Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan baju atau kwaca dengan syarat bersih, rapi dan sopan.
Baju untuk busana adat Bali terus berubah-ubah sesuai dengan perkembangan. Jadi, pada bagian baju tidak ada patokan yang pasti. Yang penting dapat mengungkap rasa syukur yang diwujudkan dengan estetika.
Setelah baju, dilanjutkan dengan menggunakan udeng (destar).
Udeng secara umum dibagi tiga yaitu udeng jejateran (udeng untuk persembahyangan), udeng dara kepak (dipakai oleh raja), udeng beblatukan (dipakai oleh pemangku).
Udeng jejateran menggunakan simpul hidup di depan, di sela-sela mata.
Ini merupakan lambang cundamani atau mata ketiga dan lambang pemusatan pikiran.
Ujung menghadap ke atas sebagai simbol penghormatan pada Sang Hyang Aji Akasa.
Udeng jejateran memiliki dua bebidakan yaitu sebelah kanan lebih tinggi, dan sebelah kiri lebih rendah yang berarti kita harus mengutamakan dharma.
Bebidakan yang di kiri simbol Dewa Brahma, yang kanan simbol Dewa Siwa, dan simpul hidup melambangkan Dewa Wisnu.
Pada udeng jejateran bagian atas kepala atau rambut tidak tertutupi, yang berarti kita masih brahmacari dah masih meminta.
Sedangkan pada udeng dara kepak, masih ada bebidakan tapi ada tambahan penutup kepala yang berarti symbol pemimpin yang selalu melindungi masyarakatnya dan pemusatan kecerdasan.
Pada udeng beblatukan tidak ada bebidakan, hanya ada penutup kepala dan simpulnya dibuat di belakang dengan diikat ke bawah sebagai simbol lebih mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.
Editor : Nyoman Suarna