BALI EXPRESS - Sama seperti busana adat kaum pria, busana adat ke pura untuk kaum wanita Hindu Bali juga diawali dengan menggunakan kamen.
Untuk kaum wanita, lipatan kain/kamen melingkar dari kanan ke kiri, karena sesuai dengan konsep sakti.
Wanita sebagai sakti bertugas menjaga agar si laki-laki tidak melenceng dari ajaran dharma.
Sesuai tradisi Hindu Bali, tinggi kamen wanita kira-kira setelapak tangan karena melangkah lebih pendek.
Setelah menggunakan kamen kaum wanita memakai bulang yang berfungsi untuk menjaga rahim dan mengendalikan emosi.
Wanita menggunakan selendang/senteng yang diikat menggunakan simpul hidup di kiri. Ini merupakan simbol sakti dan mebraya.
Wanita memakai selendang di luar, tidak tertutupi oleh baju. Maknanya, selalu siap membenahi kaum pria jika melenceng dari ajaran dharma.
Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan baju (kebaya) dengan syarat bersih, rapi, dan sopan.
Penggunaannya sama seperti baju pada laki-laki.
Tahapan selanjutnya adalah menghias rambut dengan memakai pusungan.
Secara umum ada tiga pusungan yaitu pusung gonjer untuk wanita yang masih lajang/belum menikah.
Pusung gonjer dibuat dengan cara rambut dilipat sebagian dan sebagian lagi digerai.
Baca Juga: Beredar Foto Kondisi Terkini Menkomarves Luhut Binsar Pandjaitan, Tubuh Kurusan dan Rambut Memutih
Penyuluh Agama Hindu, Ni Luh Putu Deny Purwanthi, menjelaskan, pusung gonjer juga sebagai simbol makhota dan stana Tri Murti.
Yang kedua adalah pusung tagel. Jenis pusung ini digunakan wanita yang sudah menikah.
Sedangkan yang ketiga adalah pusung podgala/pusung kekupu. Jenis pusung podgala dipakai oleh pedanda istri.
Pusangan ini dihias dengan bunga. Ada tiga bunga yang bisa dipakai yaitu cempaka putih, cempaka kuning, sandat sebagai lambing dewa Tri Murti.
Editor : Nyoman Suarna