BALI EXPRESS - Sesuai tradisi di Desa Pujungan, Tabanan, Bali, para penari Rejang Sang Hyang Iinan adalah sekelompok wanita yang sudah lanjut usia atau sudah menopause.
Sebab para penari yang sudah melewati masa menstruasi atau menopause ini dianggap memiliki kekuatan dan kebijaksanaan khusus.
Para penari Rejang Sang Hyang Iinan ini diyakini mampu menghubungkan antara dunia manusia dan dunia roh, serta memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan para dewa dan leluhur melalui gerakan tari mereka
Saat menari para wanita ini membawa wakul yang disebut pagu. Sarana ini memiliki makna yang mendalam.
Pagu memiliki makna pentingnya kerja sama dan solidaritas dalam mempertahankan kesuburan tanah serta menjaga keberlangsungan pertanian dari generasi ke generasi di Desa Pujungan.
Selain itu, pagu juga berisi hasil panen yang melambangkan berkah dari Dewi Sri.
“Pagu ini melambangkan tempat bersemayamnya Dewi Sri dan juga sebagai wujud dari sang hyang iinan itu sendiri,” kata Bendesa Adat Pujungan, I Nyoman Yudana.
“Pagu tersebut biasanya dihias seindah mungkin dengan menggunakan bunga-bunga yang harum dan bermacam jenis,” terangnya.
Gerakan-gerakan penari yang elegan dan penuh makna juga membawa pesan tentang keharmonisan antara manusia dan alam.
Hasil panen juga menjadi dasar kehidupan masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan tradisi budaya.
Pagu ditata atau dihias seindah mungkin. Para penari akan menghias pagu dengan menggunakan beraneka macam warna dan jenis bunga agar dapat menambah nilai keindahan pada pagu.
Editor : Nyoman Suarna