Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Hindu Bali: Begini Makna dan Rentetan Persembahyangan sesuai Kramaning Sembah

Putu Agus Adegrantika • Rabu, 8 November 2023 | 17:00 WIB
SEMBAHYANG : Persembahyangan yang dilakukan oleh umat Hindu melalui sebuah rentetan yang disebut kramaning sembah. Kramaning sembah memiliki makna tersendiri.
SEMBAHYANG : Persembahyangan yang dilakukan oleh umat Hindu melalui sebuah rentetan yang disebut kramaning sembah. Kramaning sembah memiliki makna tersendiri.

BALI EXPRESS - Kramaning sembah merupakan rentetan persembahyangan sesuai tradisi agama Hindu, khususnya di Bali.

Kramaning sembah biasa dilakukan dalam persembahyangan secara bersama-sama, dipimpin oleh seorang sulinggih.

Meski demikian, kramaning sembah bisa dilakukan sendiri

setelah melaksanakan Puja Tri Sandya.

Pada umumnya, saat umat Hindu di Bali sembahyang bersama di pura, diawali dengan Puja Tri Sandya. Setelah itu baru dilanjutkan dengan kramaning sembah.

Penyuluh Agama Hindu, Made Marjana, menjelaskan, rangkaian persembahyangan menurut kramaning sembah diawali dengan sembah puyung.

Setelah itu dilanjutkan dengan sembah menggunakan sarana bunga ditujukan kepada Sang Hyang  Siwa Aditya.

Kemudian dilanjutkan dengan sembah kepada Ista Dewata, lalu memohon anugerah, dan diakhiri dengan sembah puyung dan parama santi.

Menurut Marjana, sebelum melaksanakan kramaning sembah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dilakukan, yaitu persiapan sembahyang, meliputi persiapan lahir dan batin.  

Persiapan lahir meliputi sikap duduk yang baik, pengaturan napas dan sikap tangan.

Kemudian tak kalah pentingnya adalah sarana penunjang sembahyang seperti pakaian harus bersih dan rapi, bunga dan dupa.

Sedangkan persiapan batin adalah ketenangan dan kesucian pikiran.

Baca Juga: Bertemu Ganjar Pranowo, Susi Pudjiastuti Ngaku Lebih Jago Nyopir

Langkah-langkah persiapan sembahyang adalah asuci laksana, yaitu membersihkan badan dengan mandi.

“Pakaian sembahyang harus bersih serta tidak mengganggu ketenangan pikiran. Pakaian yang ketat dan warna yang mencolok hendaknya dihindari. Pakaian harus disesuaikan dengan dresta (kebiasaan) setempat, supaya tidak menarik perhatian orang,” bebernya.

Bunga atau kwangen sebagai lambang kesucian, diusahakan masih segar, bersih dan harum.

Jika tidak ada kwangen dapat diganti dengan bunga.

Ada beberapa bunga yang tidak baik untuk sembahyang.

“Menurut Agastyaparwa, bunga tersebut adalah bunga yang berulat. Bunga yang gugur tanpa diguncang, bunga-bunga yang berisi semut," paparnya.

"Bunga yang layu yaitu bunga yang lewat masa mekarnya juga tak boleh digunakan. Kemudian bunga yang tumbuh di kuburan. Itulah jenis-jenis bunga yang tidak patut dipersembahkan,” tegas Marjana.

Kemudian, api dupa adalah simbol Sang Hyang Agni, sebagai saksi dan pengantar sembah kita kepada Sang Hyang Widhi.

Setiap yajna dan pemujaan tidak luput dari penggunaan api.

Dupa atau api hendaknya ditaruh sedemikian rupa sehingga tidak membahayakan orang di sekitarnya ketika sembahyang.

Tempat duduk diusahakan tidak mengganggu ketenangan dengan arah duduk menghadap ke pelinggih.

Jika memungkinkan agar menggunakan alas duduk seperti tikar saat sembahyang

Sikap duduk dapat dipilih sesuai dengan tempat dan keadaan serta tidak mengganggu ketenangan hati.

Sikap duduk yang baik untuk pria adalah bersila dengan badan tegak seperti Padmasana, Silasana, dan Sidhasana.

Sedangkan sikap duduk bagi wanita ialah Bajrasana, yaitu bersimpuh dengan dua tumit kaki diduduki.

Sikap badan tegak lurus sangat baik untuk menenangkan pikiran.

Sikap tangan yang baik pada waktu sembahyang ialah “Cakupan kara kalih” yaitu kedua telapak tangan dikatupkan dan diletakkan di depan ubun-ubun. Sementara bunga atau kwangen dijepit di ujung jari tengah. 

Editor : Nyoman Suarna
#bali #kramaning sembah #persembahyangan #hindu #tradisi