Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tari Sanghyang Jaran Dipentaskan di Pura Dalem Solo Bali untuk Menghalau Wabah

Putu Resa Kertawedangga • Senin, 13 November 2023 | 14:50 WIB
Pementasan Tari Sang Hyang Jaran di Pura Dalem Solo Desa Adat Sedang, Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali Jumat, 10 November 2023.
Pementasan Tari Sang Hyang Jaran di Pura Dalem Solo Desa Adat Sedang, Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali Jumat, 10 November 2023.

BADUNG, BALI EXPRESS- Tari Sanghyang Jaran kembali dipentaskan di Pura Dalem Solo, Desa Adat Sedang, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, Jumat 10 November 2023.

Tari Sanghyang Jaran yang merupakan tarian sakral ini sebagai upaya nangluk merana atau menghalau wabah. 

Panglingsir di Pura Dalem Solo I Gusti Ngurah Ketut Sarga mengatakan, Tari Sanghyang Jaran dipercaya sebagai penghalau wabah atau penolak merana.

Pementasan di madya mandala Pura Dalem Solo, tarian ini diiringi nyanyian yang dibawakan oleh sekaa kecak.

“Tari sakral ini dipentaskan setiap Sasih Kelima sampai Kapitu, dan ini harus nangiang sanghyang dengan upacara pertama nangluk merana,” ujar Gusti Ngurah Sagra.

Menurutnya, Tari Sanghyang Jaran berhubungan erat dengan upacara nangluk merana atau penolak wabah di masyarakat sekitar Pura Dalem Solo.

Wabah yang dimaksud, mencakup penyakit yang menimpa masyarakat dan juga hama yang merusak lahan pertanian.

“Dalam purana juga telah disampaikan keberadaan pura (Dalem Solo, Red) tidak terlepas dari nangluk merana karena pura ini pertama-tamanya adalah pura swagina. Pada waktu itu terjadilah bencana yang tidak bisa dihindari, seperti membawa penyakit, tumbuh-tumbuhan tidak berhasil. Sehingga dilakukannya nangluk merana itulah yang kami wariskan sampai saat ini,” ungkap pria yang kini berusia 74 tahun. 

Tarian Sanghyang Jaran, tegas dia, setiap tahun wajib dipentaskan. Bahkan ia mengaku tarian tersebut sudah diwariskan sejak dirinya kecil.

“Setiap sasih kelima hingga kepitu kami harus menurunkan tari sakral Sanghyang Jaran ini dengan harapan masyarakat pengempon terhindar dari bahaya merana atau yang tidak baik. Dulunya kegiatan sakral ini dilaksanakan setiap hari, dan tidak dilaksanakan di pura melainkan di setiap perempatan jalan. Dari perempatan satu ke perempatan lainnya, istilahnya nyatur desa,” terangnya.

Saat pandemi Covid-19 dihaturkan guru piduka dan gendu piduka karena tidak boleh berkerumun.

Sarana yang digunakan berupa bara api dari serabut kelapa. Penari yang terpilih akan mengalami trance dan menginjak bara api yang telah disiapkan.

Tidak sembarang orang bisa menjadi penari Sanghyang Jaran. Tarian ini akan dibawakan oleh orang terpilih yang merupakan tapakan Sang Hyang Oncer Sarwa. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #Pura Dalem Solo #badung #tari sanghyang jaran