BALI EXPRESS - Tari Gandrung di Desa Adat Kekeran secara umumnya dipentaskan di Jaba Tengah (Madya Mandala) Pura Puseh Desa Adat Kekeran.
Pertimbangannya, karena ada banyak upacara besar yang dilaksanakan di Pura Puseh, seperti Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa, ataupun Ngusaba Nini.
Selain itu, tari Gandrung tidak bisa lepas dari sejarah terbentuknya Desa Adat Kekeran dan kaitannya dengan pohon beringin tua sebagai pancer (tonggak sejarah) terbentuknya Desa Adat Kekeran.
Tari Gandrung dipentaskan saat malam hari, sebelum puncak upacara besar di Pura Kahyangan Tiga Desa Adat Kekeran, seperti upacara ngenteg linggih, ngusaba desa, ataupun ngusaba nini yang dilaksanakan keesokan harinya.
Sarana upakara yang dipergunakan dalam tari Gandrung di Desa Adat Kekeran berupa banten pejati.
Penggunaan sarana berupa banten pejati memiliki makna filosofis yakni pengungkapan kesungguhan hati dari penari Gandrung dalam menarikan tarian Gandrung.
Selain itu juga untuk memohon pesaksi dari Tuhan berserta manifestasi-Nya agar pementasan tari Gandrung dapat berjalan dengan lancar.
Dikatakan Bendesa Adat Kekeran I Made Wardana, terkait prosesi tari Gandrung di Desa Adat Kekeran, diawali dengan Mabyakala.
Yakni upacara pembersihan kepada para penari Gandrung secara niskala agar raga penari menjadi suci dan bersih sebelum menarikan tari Gandrung.
Dilanjutkan dengan Natab Mejaya-Jaya.
Prosesi ini dilakukan saat penari melakukan natab dan ngayab ke diri penari agar Taksu tari Gandrung berkenan turun dan berada dalam diri penari sehingga tari Gandrung bernuansa sakral dan memiliki nilai magis.
Kemudian pemangku mulai melantukan puja piuning, memohon agar Tuhan berserta manifestasi-Nya yang berstana di Pura Puseh Desa Adat Kekeran berkenan menyaksikan, memberikan kelancaran, dan menghilangkan segala halangan dalam pementasan tari Gandrung yang dibarengi dengan sembah bhakti dari PenariGandrung.
Penari Gandrung kemudian menari di areal Jaba Tengah (Madya Mandala) Pura Puseh Desa Adat Kekeran diiringi dengan alunan gamelan.
Pementasan diwarnai tawa maupun tepuk tangan dari penonton, sambil sesekali mengajak salah satu penonton untuk menari bersama.
“Hal ini mengandung makna bahwa tari Gandrung sebagai tarian sakral dan simbolis unen-unen Ida Bhatara memberikan anugrah kebahagiaan, baik itu kepada orang yang diajak menari maupun kepada para penonton,” pungkasnya.
Editor : Nyoman Suarna