Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tempat Memohon Jabatan, Pura Pucak Petali Punya Tradisi Unik Jelang Pujawali

Putu Agus Adegrantika • Senin, 20 November 2023 | 21:50 WIB
PEJABAT: Pura Luhur Pucak Petali, di Desa Adat Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan diyakini sebagai tempat memohon jabatan karena sering didatangi para calon legislatif dan calon bupati.
PEJABAT: Pura Luhur Pucak Petali, di Desa Adat Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan diyakini sebagai tempat memohon jabatan karena sering didatangi para calon legislatif dan calon bupati.

TABANAN, BALI EXPRESS –  Pura Luhur Pucak Petali yang terletak di utara kawasan Destinasi Wisata Jatiluwih, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan diyakini sebagai tempat memohon jabatan.

Namun menjelang pujawali di pura tersebut, ada tradisi unik yang harus dilaksanakan pengempon pura.

Seperti dipaparkan Bendesa Adat Jatiluwih, I Wayan Yasa, Pura Luhur Pucak Petali diyakini bagian dari pemerintahan.

“Sedangkan Pura Besi Kalung untuk pertahanan,  Pura Tamba Waras untuk pengobatan, dan Pura Muncak Sari untuk kemakmuran,” jelas Wayan Yasa, Minggu (19/11).

Diyakini sebagai bagian dari pemerintahan, terang Yasa, karena  banyak calon legislatif maupun calon bupati yang tangkil ke pura, saat menjelang pemilihan.

“Yang jelas, menjelang pemilu atau pilkada banyak banten pejati yang berisi foto di tempat itu.  Entah caleg atau calon kepala daerah yang berhubungan dengan pemerintahan,” imbuhnya.

Biasanya H-2 pelaksanaan pemilihan pasti ada yang tangkil dengan sarana banten pejati. Tidak hanya dari Tabanan, tetapi juga dari seluruh Bali.

Banyak di antaranya permohonannya terkabulkan. Hal itu dibuktikan banyak para pejabat  yang tangkil ke pura saat pujawali.

Terdapat tradisi unik setiap menjelang Pujawali di Pura Luhur Pucak Petali. Tradisi tersebut berupa maboros atau berburu kijang ke hutan yang dilakukan oleh krama pengempon pura.

Wayan Yasa menjelaskan, tradisi tersebut telah berlangsung secara turun-temurun.

“Ini merupakan bhisama  dari turun-temurun setiap menjelang pujawali di pura ini,” jelasnya beberapa hari lalu.

Maboros khusus digelar setiap h-5 pelaksanaan pujawali di Pura Luhur Pucak Petali.

Maboros digelar khusus untuk memburu hewan kijang yang ada di hutan di atas pura tersebut. Hewan kijang ini dipakai sebagai sarana upakara yang dihaturkan saat pujawali.

 “Ini tertulis dalam purana, bahwa setiap pujawali di Tri Kahyangan Puseh Bale Agung,  termasuk di Pura Pucak Petali  memakai sarana daging kijang,” beber Wayan Yasa.

“Sehingga setiap enam bulan sekali, atau H-5 pujawali, pasti digelar maboros,” imbuhnya.

Dalam pelaksanaan tradisi maboros, dilengkapi dengan upakara dan sarana lainnya. 

“Saat maboros ke hutan disertai dengan sarana dan wewanginya. Dapat atau tidak dapat hasil buruan, upacara tetap berjalan,” bebernya.

Sebab, jika tradisi itu tidak dijalankan, lanjut Wayan Yasa, akan terjadinya wabah penyakit terhadap hewan-hewan, khususnya berkaki empat di wilayah desa setempat.

“Dulu katanya sempat ditiadakan, namun hewan yang berkaki empat kena grubug (wabah penyakit,red). Setelah tradisi maboros dilakukan kembali, semua wabah itu hilang,” tuturnya.

Tradisi maboros hanyalah simbol. Jika tidak mendapatkan hewan kijang saat berburu, dapat diganti dengan itik bulu sikep atau pun bebek bulu sikep.

 “Terpenting upakara dan tradisi ini berjalan. Sebab kijang itu bisa ditukar dengan itik bulu sikep atau bebek bulu sikep,” pungkas Wayan Yasa. 

Editor : Nyoman Suarna
#pura pucak petali #pujawali #jabatan #tradisi