Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Kendalikan Hujan di Bali: Lontar Nerang Ujan Gunakan Empat Cara, Ini Sarana dan Mantranya

I Putu Mardika • Kamis, 23 November 2023 | 16:43 WIB
MENGUSIR HUJAN: Menurut Lontar Nerang Ujan ada empat cara yang bisa digunakan untuk mengusir hujan. Cara tersebut dilengkapi dengan sarana dan mantra.
MENGUSIR HUJAN: Menurut Lontar Nerang Ujan ada empat cara yang bisa digunakan untuk mengusir hujan. Cara tersebut dilengkapi dengan sarana dan mantra.

BALI EXPRESS - Nerang ujan adalah sebuah ritual yang dilakukan seorang balian di Bali untuk mengendalikan hujan.

Tata cara nerang ujan, mantram, sarana dan penggunaan aksara menjadi poin penting dilakukan oleh pawang hujan yang diulas dalam Lontar Nerang Ujan.

Nerang ujan jika dilihat dari bahasa Bali dimaknai, Nerang yang memiliki makna terang, cerah. Sedangkan kata ujan bermakna hujan.

Nerang ujan dimaknai dengan sebagai suatu kegiatan mencoba menghentikan atau memindahkan hujan di sebuah tempat ke suatu wilayah.

Tokoh Aliansi Pemuda Hindu Bali, Putu Eka Sura, dalam artikel yang ditulis di Jurnal Teologi meyebutkan, isi teks lontar Nerang Ujan adalah filosofis aksara dan penggunaan aksara Bali untuk ritual mengusir hujan.

Selain itu, lontar tersebut menyebutkan adanya konsep dewata dalam prosesi nerang ujan, mantra yang diucapkan saat prosesi nerang ujan, dan adanya penggunaan sarana prosesi nerang ujan yang diletakkan secara khusus di tempat tertentu.

Isi teks Lontar Nerang Ujan menjelaskan ada beberapa cara untuk menghilangkan hujan, dan membuat langit cerah kembali, dengan memadukan beragam aksara suci, mantra dan sarana banten.

Cara pertama, sebagaimana disebutkan dalam lontar Nerang Ujan memakai sarana sembe, cawan sutra.

“Iki Panerang sarana sembe cawan sutra masigi 4, saha asep menyan madu, andus menyane idepang Bhatara Siwa, patemuang ring Bhuana Agung. Mantranyane Sang Anoman Bayu Sueta magenah ring papusunan, metu, ring cangkem.”

Lanjut disebutkan: “Sang, pinaka Sang Anggada bayu bang, magenah ring hati, metu ring lidah. Bang, pinaka Sang Sugriwa bayu kuning, magenah ring ungsilan, metu ring karna. Tang, pinaka Sang Anila bayu ireng, magenah ring Ampru, metu ring netra. Ang, pinaka Bhatara Siwa bayu amancawarna, magenah ring tengah metu ring tawang Ing, merajah kaya iki ring kasa. Mantranyane ambara desa ya, atapakan, cintya, Dewa Yama ya mawarna ya, Bayu astu ya.”

Terjemahan: Menghilangkan hujan menggunakan sarana sembe, cawan sutra (mungkin semacam gelas/mangkok). Dengan sarana sembe cawan sutra berbentuk segi empat, dupa, ditambah bunga, madu, kemudian dibakar dapat menghilangkan hujan. Asap bunganya sebagai wujud konsentrasi kepada Dewa Siwa, pertemuan dengan mikrokosmos. Ucapkan mantra Sang Anom Bayu Sueta bertempat di ulu hati, keluar dari mulut.

Aksara Sang, Bang Tang, Ang, Ing. Aksara Sang sebagai sang anggada berwarna merah, bertempat di hati, keluar di lidah.

Aksara Bang sebagai Sang Sugriwa berwarna kuning, bertempat di ungsilan, keluar pada telinga.

Aksara Tang sebagai Sang Anila berwarna hitam, bertempat di ampru, keluar dari mata.

Aksara Ang sebagai Dewa Siwa berwarna-warni bertempat di tengah, keluar dari tawang aksara Ing, Dirajah/digambar aksara suci Om, Ong di kain putih.

“Dengan mengucapkan mantram ambara desa ya, atapakan, cintya, Dewa Yama ya mawarna ya, Bayu astu ya gambar aksara ini pada kain putih,” ungkapnya.

Cara kedua dalam menghilangkan hujan berdasarkan teks lontar Nerang Ujan, menggunakan lima mantra dan sarana yang berbeda pula.

Dua mantram penerang dengan menggunakan liligundi.

Adapun teksnya: “Iki penerang sane kalih, sarana liligundi nibun. Mantramnya: Om Sang Hyang Lembu Petak, ingsun kokon maring megan drwenne, engolangana siku marang-marang rowanganta, teka dilet denasah, kang megha papetang, pada mandung kabeh, saterang, byar, apadang.”

Mantranyane: “Brahma tuwun, Wisnu Tosyah, Om Kaki Komara siddhi, kami manyilih, payung sawgu, byar-byar-byar.”

Terjemahan: Om Sang Hyang Lembu Petak, saya memohon kepada awan-Mu, agar cepat berpencar dari sini. Janganlah awan berkumpul di sini menyebabkan gelap, menyebabkan mendung semuanya. Hilanglah sekarang terang seterangnya.

Mantranya: Brahma tuwun, Wisnu Tosyah, Om Kaki Komara siddhi, kami manyilih, payung sawgu, byar-byar-byar.

Cara nerang lainnya menggunakan jeringau (jangu) yang dirajah dengan menggunakan mantra ketiga.

Adapun teksnya; “Iki penerang sarana jangu rajah kadi iki. Mantramnya: Om Bhatara Guru Marapit, Bhatara Iswara marapit, Bhatara Sangkara marapit, Bhatara Ludra marapit, Bhatara sampu marapit, marapit gunung, marapit tasik, marapit danu, marapit tukad, marapit, at.., sat rang-rang rang-rang dat, syah, ah kaki dangkal, kaki parapal, kaki lumanglang, ingsung penerang uddan, Joh Ambun, Joh-Uh.. dan Sang Hyang Candra Raditya teka koken, syang….. syang apadang.

Terjemahan: Ini cara mengilangkan hujan dengan sarana jeringau, yang digambarkan bentuk seperti ini:

Mengucapkan mantra Om Bhatara Guru Marapit, Bhatara Iswara marapit, Bhatara Sangkara marapit, Bhatara Ludra marapit, Bhatara sampu marapit, marapit gunung, marapit tasik, marapit danu, marapit tukad, marapit, at.., sat rang-rang rang-rang dat, syah, ah kaki dangkal, kaki parapal, kaki lumanglang, ingsung penerang uddan, Joh Ambun, Joh-Uh.. dan Sang Hyang Candra Raditya teka koken, syang….. syang apadang.

Selanjutnya mantram keempat untuk menghilangkan hujan dengan menggunakan sarana rokok.

Adapun teksnya sebagai berikut: “Iki penerang sarana roko, mantranyane Ah Sira megha ngemu udan. Aranira Wisnu Komara. Makesiar ring Nyalia. Dumu nging gua, galang. Sang Hyang Reka, Seleng, Meleng, Surya Candra., Siuh-Ih-Lap-Ser telas...”

Terjemahan: Ini cara menghilangkan hujan dengan menggunakan sarana rokok, mengucapkan mantra: “Hey, kamu awan yang mengandung hujan, kamu adalah anaknya Wisnu, bergeserlah dari atas, berpencarlah, terang dan cerahlah. Sang Hyang Reka, Seleng, Meleng, Surya Candra., Siuh-Ih-Lap-Ser telas....”

Editor : Nyoman Suarna
#bali #lontar #ujan #nerang #Sarana #mantra #tradisi #hujan