BALI EXPRESS - Tumpek Wayang menjadi hari suci yang erat kaitannya dengan proses ruwatan, khususnya Atma Kerti yang tertuang dalam Lontar Sundarigama.
Tujuannya untuk menjaga keharmonisan dengan sang penyebab hidup atau Atman.
Penyuluh Agama Hindu, Ni Putu Dewi Pradnyan, S.Fil.,M.Ag menjelaskan, pelaksanaan hari suci tumpek secara sekala dan niskala sesungguhnya adalah upaya nyata dalam proses ruwatan.
Dalam sad kerthi, ada dikenal dengan atma kerthi yang artinya menjaga keharmonisan sang penyebab hidup.
Pelaksanaan Tumpek Wayang diulas dalam Lontar Sundarigama “……saniscara keliwon wuku wayang, pujawali Bhatara Iswara, Pangastawania Sarwa tetabuhan gong, gambang, gender, salwiring pahimpun himyan. Widhi wedhaninia : Suci, Peras, ajengan, iwaknia itik putih, sedah wohan, canang merakam pasucen,……
Baca Juga: Atasi Persoalan Lingkungan, Jokowi Serukan Langkah Ini di KTT APEC 2023
Menurut Lontar Sundarigama, Tumpek Wayang adalah pujawali yang dihaturkan kehadapan Ida Bhatara Iswara dengan mengupacarai wayang dan peralatannya.
Pemujaan kepada Hyang Iswara juga bermakna sebagai permohonan pencerahan. Sebab lingga beliau ada di timur, dimana matahari terbit dan memberikan pencerahan dan kehidupan kepada umatnya.
“Jika kita lihat lebih dalam, kisah-kisah dalam lontar mengenai pertunjukkan wayang menyimbolkan dua kekuatan besar yang akan selalu ada di dunia ini (rwabhineda), yaitu angkara murka dan kebajikan,” jelasnya.
Maka untuk selalu memuliakan dan menyematkan kebajikan pada diri maka upaya pencerahan berupa ilmu pengetahuanlah yang semestinya digunakan untuk mengalahkan keangkaramurkaan.
Wajar saja hal ini menjadi benar karena pada setiap pertunjukan wayang pastilah berisi petuah-petuah yang berkaitan dengan pencerahan bagi manusia yang sesungguhnya tergelapkan oleh duniawi.
Sebagaimana dalam Tantu Pagelaran, menceritakan pula asal mula pertunjukan wayang kulit, dimana Bhatara Siwa yang sedang berwujud Kala Rudra ingin membinasakan semua makhluk karena terlalu pekat aroma angkara murka.
Turunlah kemudian Dewa Iswara sebagai dalang yang didampingi oleh Dewa Brahma dan Dewa Wisnu dengan mempertunjukkan wayang kulit dan menceritakan siapa sebenarnya Kala Rudra.
Pada intinya Tumpek Wayang mengingatkan tentang dunia yang telah dipenuhi dengan angkara murka, kegelapan dan kebodohan.
Maka yang senantiasa perlu dilakukan adalah penyeimbangan atas hal-hal negatif dengan hal-hal yang positif.
Refleksi sesungguhnya adalah ketika kita menggunakan ilmu pengetahuan sebagai dasar pikiran, perbuatan dan perkataan kita.
Tumpek wayang menyiratkan bahwa jiwa yang suci yang menjadi sumber hidup pada kehidupan, sedang terselubungi oleh keduniawian.
“Pada saat inilah kita berkaca, kita bercermin pada diri entah apa yang sudah dilakukan dan apa hendak untuk kita capai demi kebaikan hidup kita kedepan,” paparnya.
Editor : Nyoman Suarna