BALI EXPRESS - Ada hal terpenting saat pelaksanaan Tumpek Wayang, yaitu pada Sukra Wage Wuku Wayang yang disebut Kala Paksa. Dalam Lontar Sundarigama disebutkan:
“…..Sukra Wage Kalapaksa ngaran wekata mecampur, matangian ikang wwang sayogya maseselat, dening apuk hamemer ring bulun hatinia mwang sasuwuk rwaning pandhini tekeng umah-umah paturon, enjang enjingnia ikang sasuwuk pandan, kumalakna winadahan sidi dulurin pasegehan, bwangen ring dengen saha asep, sesapan sang ngutang wigna….”
Maksudnya adalah Hari Jumat Wage Wuku Wayang dinamakan hari Kala Paksa, hari yang tidak baik menurut tradisi agama Hindu di Bali.
Sesuai tradisi Hindu di bali, semestinya manusia membuat tanda dengan kapur yang dilekatkan di hulu hati.
Juga patut mengadakan sasuwuk (penghambat kala) dengan daun berduri berupa pandan berduri (diolesi kapur dengan bentuk tanda tambah) lalu dipasang di bawah tempat tidur.
Dalam pelaksanaannya, sesuwuk tersebut diletakkan di depan pintu masuk pekarangan dan di pintu rumah.
Sementara di bawah tempat tidur jarang dilakukan. Termasuk juga apa yang dipersembahkan di sanggar kemulan sebagai linggih Bhatara Hyang Guru.
Dalam teks Lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada pujawali Bhatara Iswara, untuk widi widananya adalah Suci, peras, ajengan, ikannya itik putih sedah woh, canang raka, pasucian.
Untuk manusia diharapkan natab sesayut tumpeng agung, prayascita, panyeneng.
Ritual ini adalah salah satu sarana untuk melengkapi upaya refleksi diri.
“Karena itu, mari menjadi sadar diri pada hari suci Tumpek Wayang dengan mekakukan refleksi diri,” pintanya.
Baca Juga: Shure Kenalkan Tiga Generasi Produk Audio Terbaru, Sasar Konten Kreator, Podcaster, dan Musisi
Tumpek Wayang menjadi hari suci yang erat kaitannya dengan proses ruwatan, khususnya Atma Kerti yang tertuang dalam Lontar Sundarigama.
Tujuannya untuk menjaga keharmonisan dengan sang penyebab hidup atau Atman.
Penyuluh Agama Hindu, Ni Putu Dewi Pradnyan, S.Fil.,M.Ag menjelaskan, pelaksanaan hari suci tumpek secara sekala dan niskala sesungguhnya adalah upaya nyata dalam proses ruwatan.
Dalam sad kerthi, ada dikenal dengan atma kerthi yang artinya menjaga keharmonisan sang penyebab hidup.
Editor : Nyoman Suarna