KARANGASEM, BALI EXPRESS- Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali merupakan gunung tertinggi di Bali.
Sama dengan dengan gunung lainnya di Bali, Gunung Agung juga disucikan oleh umat Hindu di Pulau Dewata.
Tak sembarangan bisa mendaki Gunung Agung. Ada hari-hari tertentu dilarang mendaki gunung tersebut untuk kepentingan wisata.
Misalnya, larangan mendaki Gunung Agung berlaku ketika dilaksanakan karya di Pura Pasar Agung, Kecamatan Selat, Karangasem.
Begitu juga ketika Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih, aktvitas pendakian Gunung Agung juga ditutup selema berlangsungnya karya.
Tak hanya itu, ternyata warga Desa Sogra, Kecamatan Selat, Karangasem dan sekitarnya meyakini ada hari-hari tertentu yang tidak boleh melakukan aktivitas di Gunung Agung.
Menurut informasi yang didapat, hari tersebut antara lain rahina Kajeng Kliwon, Purnama Kedasa dan Buda Wage.
Bahkan ada mitos, jika mendaki menggunakan emas, maka kemungkinan besar akan hilang.
Panglingsir Pura Pasar Agung Jro Mangku Umbara yang dikonfirmasi belum lama ini membenarkan hal tersebut.
Kata dia, ketentuan itu tidak tersurat, namun diyakini oleh warga setempat. Bahkan sampai yang di bawah Desa Sogra.
Jika itu dilanggar, bisa tiba-tiba cuaca akan berubah. “Tiba-tiba di atas (Gunung Agung) akan turun hujan atau angin kencang. Tapi ketika sudah di bawah, reda kembali. Itu diyakini warga sini,” jelasnya.
Selain tidak boleh membawa emas, Jro Mangku Umbara menambahkan, ketika mendaki Gunung Agung tersebut tidak diperkenankan membawa daging sapi maupun babi.
Dirinya mengaku, jarang itu sampai di puncak. “Biasanya ada angin kencang. Tapi kembali, itu keyakinan. Ada juga yang lolos,” tandasnya. (*)
Editor : I Made Mertawan