BADUNG, BALI EXPRESS- Desa Adat Penarungan, Kecamatan Mengwi, Badung, Bali setiap tahun, secara rutin menggelar lima kali upacara macaru.
Macaru itu dilaksnanakan setiap Sasih Kalima, Kaenem, Kapitu, Kaulu, dan Kasanga.
Pelaksanaan macaru ini berbeda-beda pada setiap sasihnya. Macaru di lima sasih ini dilaksanakan untuk menjauhkan hal-hal negatif dari masyarakat.
Bendesa Adat Penarungan I Made Widiada mengatakan upacara ini memang sudah ada sejak lama.
“Pelaksanaannya berbeda-beda. Pada Sasih Kalima macaru di Pura Dalem, Pura Prajapati, dan setra. Dalam pelaksanaanya akan nedunang petapakan. Kemudian di Kaenem dan Kepitu dilaksanakan macaru di Pura Desa nantinya tirtanya akan dibagikan kepada krama desa setelah kami melaksanakan pecaruan,” ujar Widoada.
Setelah itu ia menerangkan, masyarakat juga akan macaru di rumahnya masing-masing.
Selain macaru ada juga yang hanya mengharurkan segehan agung. “Pada Sasih Kalima Petapakan Ida Bhatara akan tedun ngider bhuana. Ida Bhatara macecingak ke masyarakat,” ungkapnya seraya menyatakan pelaksanaan upacara macaru pada Kajeng Kliwon Uwudan atau sebelum datangnya Tilem.
Baca Juga: Dicurhati Nelayan Sorong, Kaesang Akan Ngadu ke Bapak
Widiada mengaku pelaksanan upacara pada saat Sasih Kasanga dilaksanakan sebelum Hari Raya Nyepi.
Biasanya saat itu biaya yang diperlukan sekitar Rp75 juta. “Dana ini ditanggung seluruhnya oleh desa adat,” ucapnya.
Menurutnya, upacara macaru pada setiap sasih ini layaknya upacara nangluk merana.
Pelaksanaannya juga erat kaitannya dengan cerita yang berkembang di masyarakat.
“Ini berdasarkan cerita, pada Sasih Kaenam ada pelepasan sasab, itu yang diyakini masyarakat. Sehingga dengan nyomiang Bhuta Kala dan macaru astungkara masyarakat rahayu,” jelasnya. (*)