GIANYAR, BALI EXPRESS - Barong landung merupakan salah satu tradisi Bali. Masing-masing desa yang memiliki barong landung memiliki asal usul tersendiri.
Demikian juga Barong Landung yang terdapat di Banjar Mas, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar memiliki asal usul tersendiri.
Pemangku Pura Masceti Sayan, Jro Mangku I Made Ngastra, mengungkapkan, sasuhunan Barong Landung di Desa Sayan berawal dari sejarah peperangan Ki Patih Bedesa Mas dari Ubud dan Ki Patih Ngurah Mambal dari Mengwi.
Dalam peperangan itu tidak ada yang menang dan kalah.
“Melihat Ki Bendesa Mas lebih unggul dan diketahui memiliki seorang putri, timbul niat Ki Ngurah Mambal mengalahkan Ki Bendesa Mas,” paparnya.
Tujuan mengalah Ki Bendesa Mas supaya Ki Ngurah Mambal bisa menjodohkan putranya dengan putri Ki Patih Bendesa Mas.
Setelah dipertemukan dan dianggap cocok, kedua patih tersebut tak jadi berperang.
Jro Mangku Made Ngastra juga menerangkan, semenjak itu perbatasan kedua wilayah kerajaan itu dibagi dua.
Sebagai pembatasnya adalah Sungai Ayung yang membentang dari utara ke selatan. Wilayah timur sungai merupakan kekuasaan Ubud. Sedangkan di barat sungai merupakan kekuasaan Mengwi.
Dikarenakan patih Ubud dan Mengwi tidak jadi berperang, maka datanglah patih dari Kerajaan Negara, di Batuan, Sukawati, Gianyar menyerang ke Mengwi.
Karena diketahui oleh Ki Bendesa Mas, maka dia langsung menuju ke Mengwi, meminta rakyat Mengwi rarud ke daerah Kemenuh.
“Dari sana Ki Bendesa Mas dianggap berjasa sehingga krama di sana mulai nyungsung sasuhunan Barong Landung di Pura Dalem Tegenungan Kemenuh,” paparnya.
Jadi yang merupakan salah satu penyungsung sesuhunan barong landung adalah warga bendesa.
Jero Mangku Made Ngastra juga mengatakan, setiap enam bulan sekali warga melakukan ritual nyambleh kucit butuan di Desa Sayan untuk sesuhunan barong landung. Tempatnya di perempatan agung Banjar Mas, Sayan, Ubud.
Editor : Nyoman Suarna