BALI EXPRESS- Banjar Mas, Desa Sayan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali memiliki tradisi nyambleh kucit (anak babi).
Pelaksanaan tradisi nyambleh kucit di perempatan agung desa untuk menetralkan kekuatan yang negatif.
Jero Mangku Pura Masceti Sayan, Jro Mangku Made Ngastra menjelaskan tradisi nyambleh kucit pada upacara sasih Kaenam ini biasanya menggunakan kucit butuan.
“Penggunaan kucit juga tidak boleh sembarangan. Dimana yang disebut dengan kucit butuan adalah babi yang baru berumur satu sampai lima bulan saja,” papar Jro Mangku Ngastra.
Sementara ditanya terkait pelaksanaannya, Jro Mangku Ngastra mengatakan berawal dari ngedenudang sasuhunan berupa Barong Landung.
Dilanjutkan menuju ke catus pata desa setempat, maka di sana akan ada prosesi nyembleh kucit.
"Setelah nyambleh baru pelaksanaan persembahyangan dilakukan. Saat pulang, krama banjar biasanya menyelesaikan upacara di angkul-angkul mereka," tegasnya.
Sehingga pada pelaksanaan tersebut, krama banjar biasanya menghaturkan berupa banten dan canang seikhlasnya.
Meskipun tidak membunyikan kulkul sebagai pemberitahuan, krama dengan sendirinya menuju catus pata untuk bersembahyang.
Semua tradisi tersebut, lanjut Jero Mangku Ngastra, memang sudah ada sejak dahulu dan secara turun-temurun dilestarikan oleh umat Hindu di Banjar Mas.
Ditanya tujuannya, diungkapkan prosesi tersebut diselenggarakan karena sebagai salah satu cara untuk menetralkan bhuta kala yang ada di pekarangan desa, sehingga tidak terjadi suatu gangguan dari bhuta secara sekala dan niskala.
Dikarenakan pada sasih kaenam ini sebagai sasih yang sering terjadinya bencana alam, maupun semacam wabah penyakit yang muncul. (*)
Editor : I Made Mertawan