Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pancoran Solas Taman Mumbul Sangeh: Bersumber dari Tiga Mata Air, Tempat Mohon Penyucian dari Dewata Nawa Sanga

I Putu Mardika • Selasa, 28 November 2023 | 17:33 WIB
PANCORAN SOLAS: Pancoran Solas Taman Mumbul yang terletak di Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung bersumber dari tiga mata air, sebagai tempat memohon penyucian dari Dewata Nawa Sanga.
PANCORAN SOLAS: Pancoran Solas Taman Mumbul yang terletak di Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung bersumber dari tiga mata air, sebagai tempat memohon penyucian dari Dewata Nawa Sanga.

BALI EXPRESS - Pancoran Solas Taman Mumbul yang terletak di Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung selalu ramai didatangi pemedek untuk melukat.

Air Pancoran Solas Taman Mumbul ini bersumber dari tiga mata air.

Sumber mata air di kawasan ini pun sangat disucikan, karena kerap digunakan sebagai sarana ritual.

Hal ini didasari atas keyakinan bahwa  Pancoran Solas Taman Mumbul ini sebagai tempat melukat atau memohon penyucian kepada Dewata Nawa Sanga.

Tidak sulit mencari tempat pelukatan Pancoran Solas Taman Mumbul.

Posisinya tak jauh dari ruas jalan Sangeh-Mambal. Letaknya 50 meter ke arah timur jalan raya Sangeh-Mambal.

Di sebelah utara jalan, di depan pura pancoran solas terdapat sumber mata air yang menyerupai danau dengan air yang jernih.

Kemudian di sisi selatan jalan, terdapat kompleks pura lengkap dengan pancoran berjumlah sebelas.

Areal inilah yang dijadikan sebagai tempat untuk penglukatan bagi pemedek yang berkunjung. Kondisinya sudah sangat tertata rapi.

Bendesa Adat Sangeh I Gusti Agung Putu Adi Wiputra menjelaskan, Tirta Taman Mumbul terbentuk dari sumber air (klebutan) sehingga mirip sebuah danau kecil.

Air yang terdapat di dalam danau tersebut berasal dari bawah tanah, bukan dari aliran sungai.

Pada awalnya Tirta Taman Mumbul digunakan masyarakat setempat sebagai pemandian umum. Termasuk juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci, minum, makan, beternak dan lain sebagainya.

“Dari dulu sampai saat ini tempat tersebut juga digunakan untuk tempat melasti oleh warga sepuluh desa adat dari Kecamatan Petang dan Kecamatan Abiansemal,” jelasnya.

Di Tirta Taman Mumbul terdapat pura yang terletak di sebelah utara, bernama Pura Ulun Suwi dan pura yang terletak di dalam danau.

Pura yang terletak di dalam danau tersebut sudah ditemukan sejak dulu, bersamaan dengan danau tersebut

Dulu air tersebut digunakan untuk mengairi sawah hingga 300 hektar.

Air penglukatan ini diambil dari tiga sumber air atau istilah balinya klebutan. Pertama berasal dari klebutan di sebelah utara danau atau kolam besar Taman Mumbul.

Di tempat tersebut terdapat beji berisi sumber mata air yang keluar dari tanah.

Sumber air kedua berasal dari dalam Pura Taman Pancaka Tirtha, yang berada di dekat lokasi penglukatan.

Terakhir adalah sumber air besar yang berada di sebelah barat danau di Taman Mumbul.

Tempat penglukatan Pancoran Solas Taman Mumbul ini memakai konsep Tri Mandala, yaitu sebelah utara jalan raya, dari utara danau disebut Tirtha Mandala.

Airnya dipergunakan untuk kegiatan upacara keagamaan yang berhubungan langsung dengan Tuhan. Seperti mendak tirtha, melasti, dan juga nyegara gunung.

Dari jalan raya sampai sungai disebut dengan Toya Mandala.

Fungsi airnya untuk penglukatan, dalam hal ini untuk ritual pemandian manusia.

Dari sungai ke selatan disebut dengan Yeh Mandala, yaitu sisa dari semua pembuangan air ini dipergunakan untuk sumber irigasi sekitar 300 hektar sawah.

Sesuai namanya, Pancoran Solas memiliki 11 (sebelas) pancoran.

Setiap pancoran merupakan simbol dari kekuatan Tuhan.

Ini merupakan simbol dari kekuatan Dewata Nawa Sanga yang menjadi sembilan penjuru mata angin.

Mulai dari pancoran yang paling kiri atau yang paling utara yaitu simbol dari Dewa Siwa, Dewa Sambu, Dewa Sangkara, Dewa Rudra, Dewa Maheswara, Dewa Wisnu, Dewa Mahadewa, Dewa Brahma, Dewa Iswara dan ditambah lagi dua pancoran yaitu pancoran yang sebagai simbol kekuatan Dewi Saraswati dan Dewi Gangga.

Dipilih Dewata Nawa Sanga karena memiliki filosofi sebagai sembilan dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tujuannya untuk menjaga keharmonisan alam baik alam mikrokosmos maupun alam mikrokosmos.

Selain itu juga dipuja Dewi Gangga sebagai dewi kesuburan dan Dewi Saraswati sebagai lambang ilmu pengetahuan. Karena tempat ini sering digunakan para pelajar untuk memohon anugerah ilmu pengetahuan.

Di area penglukatan terdapat pula pelinggih Konco tempat memuja Dewi Kwan Im dan juga Ratu Niang Sakti.

Pemangku yang biasanya membantu memimpin ritual penglukatan di Taman Mumbul ini merupakan para pemangku dari Pura Khayangan Tiga Desa Adat Sangeh.

Setiap hari ada dua pemangku yang bertugas dibagi dalam dua shif, yaitu pagi hari dari pukul 07.00-13.00 Wita dan sore hari dari pukul 13.00-19.00 Wita.

Setiap bulan para pemangku yang ngayah diberi upah atau apresiasi dari pihak pengelola.

Tempat penglukatan Pancoran Solas Taman Mumbul tidak memiliki pemangku khusus.

Setiap hari suci Hindu seperti Galungan, Kuningan, Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon hingga Banyu Pinaruh, tempat ini selalu ramai dikunjungi umat untuk melukat.

Editor : Nyoman Suarna
#pancoran solas #taman mumbul #dewata nawa sanga #mata air #penyucian #sangeh