Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pura Masceti Gianyar: Bukan Dibuat Dang Hyang Dwijendra, Ternyata sudah Ada Sejak Zaman Megalitik

I Putu Mardika • Senin, 4 Desember 2023 | 18:03 WIB
MEGALITIK: Pura Masceti yang terletak di Desa Keramas, Blahbatuh, Gianyar tidak dibangun oleh Dang Hyang Dwijendra tetapi diperkirakan sudah ada sejak zaman megalitik.
MEGALITIK: Pura Masceti yang terletak di Desa Keramas, Blahbatuh, Gianyar tidak dibangun oleh Dang Hyang Dwijendra tetapi diperkirakan sudah ada sejak zaman megalitik.

BALI EXPRESS - Pura Masceti merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat di Bali yang terletak di tepian Pantai Desa Medahan-Keramas, Blahbatuh, Gianyar.

Pura yang kerap didatangi umat dari berbagai pelosok Bali ini memiliki pertalian sejarah dengan tokoh suci Dang Hyang Dwijendra.

Konon, pura ini bertalian dengan kisah napak tilas Dhang Hyang Dwijendra.

Pengempon Pura Masceti, Jero Mangku Made Puspa menjelaskan, kata Masceti terdiri dari dua suku kata yakni Mas (sinar) dan Ceti (keluar masuk).

Namun soal keberadaan Pura Masceti, kata Jero Mangku Puspa, tidak satupun orang mengetahui kapan pertama kali Pura Masceti dibangun.

Namun ada bukti purana yang menyebutkan keberada pura tersebut.

Dijelaskan, secara kronologis sejarah Pura Masceti berawal dari dua palinggih yang ada di dalam pura, yakni Palinggih Saptapatala dan Palinggih Batu Karang.

Embrio dari kedua palinggih dimaksud yang tampak seperti saat ini, keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari masa sebelumnya, yaitu masa pra-Hindu. Kemungkinan bentuk bangunan awalnya adalah sangat sederhana.

Sumber data arkeologi yang memperkuat bahwa Desa Keramas tergolong desa tua adalah adanya penemuan sarkopagus tahun 1975, ketika pembuatan pondasi kantor desa.

Sebagaimana diketahui bahwa sarkopagus merupakan salah satu tinggalan penting dari zaman pra-Hindu, tepatnya pada zaman megalitik.

Keberadaan tinggalan tersebut memberikan indikasi bahwa saat itu di Keramas telah berkembang peradaban yang sangat maju. Tradisi penguburan dengan menggunakan sarkopagus, menandakan bahwa tata kehidupan sosial kemasyarakatan di Desa Keramas telah dibangun secara teratur.

Indikasinya adalah, bentuk penguburan dengan menggunakan sarkopagus hanya diperlakukan pada orang-orang tertentu saja, seperti para tokoh yang dipandang berjasa pada masa pengabdiannya di dalam masyarakat.

Ini artinya bahwa di Desa Keramas sudah ada peradaban dan tatanan sosial kemasyarakatan.

Ketika itu diyakini telah berkembang sistem pemujaan kepada roh leluhur (roh orang meninggal) dengan menggunakan tempat-tempat pemujaan berupa punden berundak atau dalam bentuk onggokan batu (menhir).

Palinggih Tpasana di Pura Masceti merupakan bangunan palinggih hasil perkembangan lebih lanjut dari zaman pra-Hindu, yang mulanya hanya berbentuk tepas dan difungsikan sebagai tempat memuja Dewi Ibu (Dewi Kesuburan).

Kemudian, berkembang menjadi palinggih Saptapatala, sebagai lambang dari tanah (pertiwi) atau Dewi Ibu

Benda berupa Batu Karang yang disimpan dalam sebuah palinggih yang saat ini dijadikan pratima di Pura Masceti, kemungkinan juga sudah ada sejak zaman pra-Hindu.

Benda ini difungsikan sebagai media pemujaan untuk dewa laut (Baruna) oleh para petani laut (nelayan).

Editor : Nyoman Suarna
#zaman #megalitik #pura #pura masceti #dang hyang dwijendra