BALI EXPRESS - Tirta pengentas wajib digunakan oleh masyarakat Hindu khususnya di Bali dalam upacara kematian.
Tirta ini juga diyakini sebagai ngentasang sang atma atau menuntun atman menuju pembebasan atau biasa dikenal dengan moksa.
Dosen Pendidikan Agama Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Nyoman Ariyoga memaparkan, keberadaan tirta pengentas dalam upacara pitra yadnya adalah agar upacara tersebut sempurna menurut keyakinan umat Hindu.
Sebab, tanpa tirta pengentas maka tujuan upacara ngaben belum tercapai.
“Kalau sudah menggunakan tirta pengentas dalam ritual kematian, tentu kian menyempurnakan prosesi kematian, sehingga perjalanan roh benar-benar terlepas dari unsur keduniawian,” paparnya.
Hal ini memperlihatkan bahwa tirta pengentas memiliki peran penting untuk mendukung keberasilan dari upacara ngaben karena tujuan ngaben adalah agar atman terbebas dari ikatan duniawi.
“Tirta pengentas bermakna untuk membebaskan atman dari keterikatan. Ini memperlihatkan bahwa tirta pengentas mengandung aspek teologi pembebasan,” ucapnya.
Seperti diketahui,
Upacara kematian di Bali tidak terlepas dari penggunaan sarana tirta pengentas. Sarana ini diyakini sebagai sarana untuk membebaskan roh dari ikatan duniawi.
Tanpa tirta pengentas diyakini tujuan upacara ngaben tidak tercapai.
Nyoman Ariyoga menjelaskan, tirta pengentas merupakan salah satu tirta dalam upacara pitra yadnya atau upacara ngaben.
Tirta pengentas merupakan sebagai sarana terpenting dalam upacara ngaben yang diyakini sebagai tirta pemutus roh dari keterikatan duniawi.
Jika dalam upacara ngaben tidak mengggunakan tirta pengentas, diyakini tujuan upacara ngaben tidak tercapai.
Ariyoga menyebut, tirta pengentas merupakan sarana yang digunakan pada upacara pitra yadnya dengan memiliki makna untuk mengarahkan atau membimbing sang roh agar bisa menuju alam sunya.
Tirta pengentas dalam upacara ngaben biasanya dibuat oleh seorang sulinggih.
Editor : Nyoman Suarna