BALI EXPRESS - Manusia diharapkan selalu berbuat dharma dalam kelahirannya. Hal ini didasarkan atas pandangan sastra yang mengatakan bahwa kelahiran manusia adalah utama.
Konteks keutamaan ini adalah kesadaran dan kemampuan manusia untuk berpikir dan memikirkan diri menuju tindakan yang luhur dan lebih baik dari sebelumnya.
Setiap insan manusia yang lahir ke dunia ini telah dicekoki oleh cita-cita besar.
Konteks cita-cita dalam hal ini, tidak saja mengenai kegemilangan karir yang nantinya dapat diwujudkan, tetapi tertuju pula pada perilaku kebaikan sebagai penghias utama sepanjang hidup manusia itu sendiri.
Meski demikian, jarang ada manusia yang berkomitmen untuk menghiasi hidup dengan perilaku dharma.
Kesempatan hidup sebagai manusia dipandang sebagai kesempatan utama untuk memenuhi setiap keinginan duniawi dari manusia.
Manusia jarang menyadari bahwa konsistensi diri berbuat dharma nantinya juga menghasilkan hal mulia.
Lantas, bagaimana pandangan sastra terkait dengan manfaat membiasakan diri berbuat dharma?
Sloka 22 Sarasamuscaya yang dikutif dari buku terbitan Ditjen Bimas Hindu menyebutkan:
“Kadi krama sang hyang Āditya, an wijil, humilangkĕn pĕtĕngning rāt, mangkana tikang wwang mulahakĕning dharma, an hilangakĕn salwiring pāpa.”
Terjemahannya:
“Bagaikan perilaku matahari yang terbit menghapus gelapnya dunia, begitulah manusia harus melaksanakan dharma (kebajikan) yang akan melenyapkan segala dosa.”
Petikan Sloka 22 Sarasamuscaya 22 di atas, menurut Penyuluh Agama Hindu, I Made Danu Tirta, memberikan analogi bahwa manusia lahir bagaikan matahari. Kehadiran matahari adalah sebagai penghapusan kegelapan dunia.
“Tidak hanya itu, terbitnya matahari juga menjadi salah satu sumber kehidupan bagi makhluk lain di dunia ini. Makna yang dapat dipetik dari analogi tersebut adalah, kesempatan lahir sebagai manusia sangat cemerlang,” jelasnya.
Melalui kesempatan cemerlang ini, diharapkan manusia mampu menerangi berbagai kegelapan hidup, sehingga kecerahan menjalani hidup dapat terjadi.
Konteks kegelapan hidup dalam hal ini adalah dosa. Sehingga dengan dharma dan minimnya dosa yang dibuat oleh manusia, bermanfaat bagi makhluk lain di dunia ini.
Kemampuan manusia dalam berbuat dharma adalah wujud kecemerlangan hidup sebagai manusia. Hal ini menunjukkan bahwa manusia telah mampu mengelola pikirannya untuk melakukan tindakan terbaik bagi diri maupun orang lain di dunia ini.
Setiap manusia yang hidup mengabdikan diri untuk berbuat dan kepentingan dharma, telah menunjukkan adanya pembaharuan terhadap kegelapan hidup yang terjadi pada dirinya, baik saat kelahiran sebelumnya, maupun kehidupan atau kelahiran saat ini.
Kemampuan berbuat dharma mampu menghilangkan kegelapan hidup. Mengingat kegelapan hidup adalah segala belenggu duniawi, yang cenderung menjadikan manusia berpikir takabur.
Melalui konsistensi berbuat dharma (kebaikan dan kebajikan), maka segala kegelapan hidup akan hilang melalui penyadaran yang dihasilkan oleh perbuatan dharma itu sendiri.
“Berpijak pada pentingnya berbuat dharma, maka mari bersama-sama mewujudkan komitmen untuk mengisi hidup dengan dengan laku dharma,” harapnya.
“Karena laku dharma adalah segala hal dalam konteks kebaikan yang sejatinya mampu diwujudkan oleh setiap orang sebagai penghapusan dosa,” tegasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa komitmen bersama untuk berbuat dharma nantinya akan memperkuat keagungan dharma. Sehingga hidup secara pribadi maupun komunal dalam beragama Hindu mengarah pada kebahagiaan sejati dan terbebas dari dosa.
Editor : Nyoman Suarna