BALI EXPRESS - Kain tenun tradisional dalam kehidupan masyarakat Bali, tidak hanya berfungsi sebagai produk fashion, tetapi juga sebagai sarana ritual dalam upacara agama Hindu yang diyakini memiliki kekuatan mistis.
Mengutip dari Laman Dinas Kebudayaan Provinsi Bali dalam artikel berjudul “Dari Kriyaloka Kain Tradisional Bali. Cintai dan Pahami Fungsinya”, akademisi Institut Seni Indonesia Denpasar Anak Agung Ngurah Anom Mayun Konta Tenaya menyebut, secara fungsional klasifikasi kain tradisional Bali dibagi menjadi 12 kelompok.
Ke-12 kelompok tersebut yakni Bebali, Wali, Keling, Endek, Cepuk, Gringsing, Poleng, Songket, Prada, Kain Cecawangan, Sembong dan Dobol, serta Blengbong.
- Kain Bebali di Bali memiliki beberapa nama disesuaikan dengan daerahnya. Untuk masyarakat Bali Utara biasanya menyebut kain ini dengan nama Kain Wangsul. Di wilayah Bali timur disebut dengan kain Gedongan.
Motif Bebali umumnya berbentuk garis melintang. Kainnya pun berbentuk lingkaran yang tidak putus.
Kain Bebali ini digunakan dalam upacara Manusa Yadnya, dimulai dari upacara bayi dalam kandungan, kepus pusar, 42 hari, atau pada saat upacara enam bulan.
Pada upacara enam bulan misalnya, Kain Bebali yang digunakan berjenis Bebali Sukawerdhi yang diyakini dapat menangkal bahaya.
Kain Bebali juga digunakan sebagai pelengkap sarana upacara Dewa Yadnya seperti tigasan yang dihaturkan di Rong Tiga atau Kemulan.
Selain itu juga digunakan untuk upacara Pebayuhan, Ngangget Don Bingin, dan Mapurwa Daksina pada upacara Pitra Yadnya. Jenis-jenis Kain Bebali antara lain Uyah Areng, Kayu Tulak, Tulang Mimi, Alang-Alang Sekabung dan sebagainya.
2. Kain Wali dengan ciri-ciri membentuk kotak-kotak kecil, dengan berbahan dasar benang katun atau sutra. Kain ini dipakai oleh kaum perempuan pada saat upacara akil balig dan potong gigi. Kain ini diyakini sebagai permohonan agar anak menebarkan dan mendapatkan kasih sayang dari keluarga dan masyarakat.
3. Kain Keling, penggunaannya hampir sama dengan Kain Wali. Yang membedakan adalah dasar Kain Keling berwarna merah. Pada zaman dulu lebih banyak digunakan di wilayah Bali Utara dan timur.
4. Kain Endek merupakan kain tenun ikat yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini Kain Endek merupakan bagian terpenting dalam industri fashion modern, karena penggunaannya tidak saja untuk pakaian adat, tetapi juga berfungsi sebagai produk fashion yang bersifat daily wear.
5. Kain Cepuk adalah bagian dari Kain Endek. Keunikannya Kain Cepuk terletak pada warna dan motif khas, yakni warna dasar merah dengan garis putih melintang.
Kain Cepuk hanya digunakan untuk upacara adat yang bersifat spiritual karena diyakini memiliki kekuatan mistik. Kain Cepuk digunakan terbatas pada upacara keagamaan.
Bahkan Kain Cepuk yang dibuat dari Nusa Penida ini hanya digunakan untuk upacara Pitra Yadnya seperti untuk tatakan kajang.
6. Kain Gringsing merupakan satu-satunya kain tenun tradisional yang dibuat menggunakan teknik dobel ikat. Kain gringsing bermakna penolak bala serta mengusir berbagai penyakit jasmani.
Kain gringsing hanya boleh digunakan di tubuh bagian tengah, yakni sampai batas pusar. Jadi, kain gringsing tidak boleh digunakan untuk kamen.
7. Kain Bolong-Bolong adalah kain dengan kombinasi lubang-lubang yang terbentuk dari teknik menenun dengan mengatur jarak kerapatan dan kerenggangan benang.
Fungsinya untuk saput atau kampuh yang biasanya berwarna kuning. Kain ini digunakan untuk upacara ngeraja atau ngekeb pada waktu metatah untuk kaum laki-laki.
8. Kain Cecawangan yakni kain dengan lubang berukuran besar. Fungsinya sebagai selendang penutup dada dan selendang lilit untuk perempuan pada acara keagamaan.
Di Denpasar kain ini digunakan sebagai busana malelunakan bagi kaum perempuan dalam upacara Ngaben atau Pitra Yadnya.
9. Kain Rang-rang atau Tirtanadi yakni kain dengan lubang dan berpola zig zag dengan kombinasi warna cerah dan kontras. Dulu fungsinya sebagai selendang penutup pada upacara besar keagamaan.
10. Kain Prada pada zaman dulu digunakan sebagai busana tingkat utama oleh kalangan raja atau bangsawan karena dihiasi dengan lembaran emas tipis yang pengerjaannya butuh waktu lama hingga tahunan.
Untuk merekatkan warna emas digunakan lem khusus bernama ancur yang kini sudah langka.
Selain digunakan oleh kalangan raja, prada dulu digunakan untuk tujuan sakral sebagai hiasan pelinggih.
Namun, pada masa sekarang kain prada tidak lagi diproduksi menggunakan lembaran emas, melainkan produk pengganti seperti prada bubuk, prada plastik, prada cap dan sebagainya.
11. Kain Songket digunakan dalam upacara keagamaan yang besar. Kain songket menggunakan bahan benang emas, perak, dan sutra yang berwarna. Biasanya digunakan sebagai lain untuk upacara perkawinan.
12. Kain Poleng, merupakan kain yang melambangkan filosofi Rwa Bhinneda, keseimbangan baik buruk memiliki dua fungsi, yakni sakral dan menjadi sakral jika digunakan di tempat suci. Namun, ketika digunakan oleh pecalang, tentu tidak pada fungsi sakral.
Editor : Nyoman Suarna