Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Uniknya Tradisi Mategen Tegenan di Desa Adat Taro Bali, Mengenang Jejak Sejarah Rsi Markandeya

I Wayan Ananda Mustika Putra • Senin, 11 Desember 2023 | 21:36 WIB
TEGENAN : Banten sesaji yang biasa disebut tegen- tegenan merupakan sarana tradisi Mategen-tegenan di Desa Adat Taro, yang dibangun  Maharsi Markandeya.
TEGENAN : Banten sesaji yang biasa disebut tegen- tegenan merupakan sarana tradisi Mategen-tegenan di Desa Adat Taro, yang dibangun Maharsi Markandeya.

BALI EXPRESS - Mategen tegenan menjadi ciri khas pujawali di Pura Agung Gunung Raung,  Desa Adat Taro Kaja, Desa Taro, Tegalalang, Gianyar.

Bendesa Adat Desa Adat Taro Kaja, Desa Taro, I Nyoman Tunjung mengatakan, Mategen tegenan dilaksanakan oleh krama lanang (laki-laki).

Krama lanang ini membawa banten (sesaji) yang disebut tegen-tegenan dengan cara dipikul, dalam bahasa Bali disebut negen.

 “Ini bermakna melengkapi proses ayah- ayahan dan aturan krama istri,” jelas Nyoman Tunjung.

Puncak pujawali di Pura Agung Gunung Raung dilaksanakan pada Buda Kliwon Ugu, Rabu (15/11).

Adapun dudonan (tahapan) pujawali yang berlangsung selama 13 hari, diawali upacara Nuwur Ida Bathara ring wawengkon Desa Adat Taro Kaja pada Redite Paing Ugu, Minggu (12/11).

Mempersiapkan wewalungan pada Soma Pon Ugu, Senin (13/11). Melasti di Pura Sanghyang Rahu pada Anggara Wage Ugu, Selasa (14/11).

Setelahnya, mulai Wrespati Umanis Ugu, Kamis (16/11) sampai dengan Wrespati Pon Wayang, Kamis (23/11) digelar upacara panganyaran.      

Rangkaian upacara pujawali berakhir dengan nyineb pada Sukra Wage Wayang, Jumat (24/11).

“Saat ini masih berlangsung persiapan piranti (perlengkapan) yang akan digunakan saat pujawali,” ujar Nyoman Tunjung.

Ardika, salah seorang tokoh warga mengatakan, tradisi Mategen tegenan menunjukkan rasa bhakti dan wujud syukur atas pasuecan Ida Bathara yang telah memberikan tanaman tumbuh subur dan panen dengan baik.

Caranya dengan mempersembahkan pala bungkah dan pala gantung.

Dijelaskannya, tradisi ini terkait dengan keberadaan Pura Agung Gunung Raung merupakan pura kahyangan jagat.

Asal usul Pura Gunung Raung berkaitan dengan perjalanan Rsi Markandeya, orang suci dari Gunung Raung, Jawa Timur.

Kedatangan Rsi Markandeya ke Bali pada abad ke-8, bermula dari pawisik untuk menata kehidupan di Nusa Dawa.      

Namun kedatangan Rsi Markandeya pertama di Bali gagal karena pangiringnya banyak meninggal terserang wabah penyakit.

Kedatangan kedua selamat, setelah diawali menanam pancadatu di Besakih.

Setelah itu, Rsi Markandeya bersama pengiringnya merabas hutan untuk dijadikan pemukiman. Tempat tersebut itulah Desa Taro sekarang.

Untuk mengingatkan pasraman Rsi Markandeya di Gunung Raung Jawa Timur, maka di pemukiman yang dirintis oleh Maharsi Markandeya dibangun palinggih yang dinamakan Pura Agung Gunung Raung.         

Keterkaitan itu masih berlanjut sampai sekarang. Warga sekitar kaki Gunung Raung, Jawa Timur datang matirta yatra ke Pura Agung Gunung Raung.

Khususnya umat, serati, dan pamangku dari Pura Giri Mulya Raung, Glenmore, Banyuwangi. “Matirtayatra dan ngayah seperti ngaturang kidung anggam Jawa,” ungkapnya.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #desa adat taro #mategen tegenan #Rsi Markandeya #tradisi