BALI EXPRESS- Hari suci Saraswati menjadi salah satu perayaan penting bagi umat Hindu Bali.
Saraswati jatuh pada Sabtu wuku Watugunung sebagai momen melakukan pemujaan kepada Dewi Saraswati.
Hari suci Saraswati memiliki makna tersendiri, khususnya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Oleh karena itu, umat Hindu perlu mengetahui bahwa satu-satunya hal yang dapat dijadikan benteng atau pertahanan dalam diri hanyalah pengetahuan.
Tanpa pengetahuan, manusia akan mengalami kebodohan (avidya). Dari kebodohan itu, manusia akan sangat berisiko terjerumus dalam berbagai penderitaan dalam setiap kehidupannya.
Tanpa pengetahuan yang baik manusia tidak akan bisa berpikir berkata-kata dan bertindak dengan benar.
Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tabanan, Bali I Made Marjana menjelaskan, tanpa pengetahuan bisa jadi kata-kata pun tidak terkendali sehingga sering melontarkan kata-kata yang tidak baik.
Ketika pemikiran dan kata-kata tidak terkendali maka tindakannya pun akan seperti itu pula, menjadi tidak terkendali.
“Hari Saraswati adalah hari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus mendapatkan jalannya terlebih dahulu untuk mengalir ke dalam diri seseorang, barulah jika pengetahuan itu sudah ada di dalam diri baru bisa difungsikan salah satunya sebagai benteng dalam diri,” jelas Marjana.
Itulah alasan mengapa Saraswati merupakan hari raya yang lebih dahulu dilaksanakan beberapa waktu sebelum Pagerwesi.
Namun perlu dipahami bahwa sebagaimana air hanya akan bisa mengalir ke tempat yang lebih rendah. Begitu juga air pengetahuan hanya akan bisa mengalir kepada mereka yang memiliki kerendahan hati.
Orang-orang yang angkuh, sombong, congkak, penuh kedengkian, pemarah, mudah emosional, mudah membuli, gampang memprovokasi maka pengetahuan yang benar tidak akan bisa mengalir kepada orang-orang seperti itu.
Dibutuhkan orang yang “pangerten” (ungkapan Jawa) yang artinya mau memahami, mau menyadari, mau mencari kebenarannya, mau bertoleransi.
Barulah setelah pengetahuan itu bersenyawa dalam diri seseorang dan membentuk sebuah komposisi kesadaran maka dia bisa memfungsikannya sebagai “way of life”.
Salah satunya sebagai benteng dalam diri benteng yang memagari diri untuk tidak terpapar dalam berbagai pemikiran yang buruk.
Benteng yang memagari diri dari paparan tindakan yang asusila, benteng yang memagari diri agar setiap ucapan tidak keluar dari konteks kebenaran.
Dalam dunia yang serba canggih seperti sekerang, sering kali membaca postingan di media sosial begitu mudahnya seseorang mencaci, memaki, membuli, memprovokasi, merendahkan.
Sehingga hal itu mengindikasikan bahwa orang tersebut tidak memiliki benteng dalam dirinya sehingga dia dengan mudahnya terpapar dalam perilaku yang sama sekali tidak mencerminkan kesopanan dan kesantunan.
Sifat-sifat buruk seperti itu akan menjadi sebuah penghalang atau blokir terhadap aliran pengetahuan ke dalam dirinya.
“Pengetahuan memiliki kekuatan yang luar biasa, sebagaimana api yang mampu membakar benda hingga menjadi abu. Begitu pula api pengetahuan akan sanggup membakar berbagai penderitaan dan kesengsaraan yang dialami seseorang,” pungkasnya. (*)
Editor : I Made Mertawan