Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

5 Tempat Malukat Umat Hindu di Bali saat Banyu Pinaruh, Ada yang Dipercaya Bikin Awet Muda

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 15 Desember 2023 | 21:34 WIB
TIRTA EMPUL: Tirta Empul sebagai tempat pelukatan tak lepas dari mitologi pertempuran Mayadanawa melawan para dewa yang dikisahkan oleh lontar Usana Bali.
TIRTA EMPUL: Tirta Empul sebagai tempat pelukatan tak lepas dari mitologi pertempuran Mayadanawa melawan para dewa yang dikisahkan oleh lontar Usana Bali.

BALI EXPRESS- Sehari setelah Hari Suci Saraswati, umat Hindu di Bali menyebutnya Banyu Pinaruh.

Saat Banyu Pinaruh, tak sedikit umat Hindu di Bali akan datang ke sumber mata air atau pantai untuk melaksanakan ritual pembersihan diri atau malukat. Biasanya dilaksanakan pagi hari.

Berikut ini disajikan lima tempat malukat yang bisa menjadi pilihan umat Hidup saat Banyu Pinaruh, Minggu, 17 Desember 2023.

  1. Pura Campuhan Windhu Segara
MALUKAT: Pamedek malukat di Pura Campuhan Windhu Segara saat Banyu Pinaruh beberapa waktu lalu. (DEWA KRISNA PRADIPTA/BALI EXPRESS)
MALUKAT: Pamedek malukat di Pura Campuhan Windhu Segara saat Banyu Pinaruh beberapa waktu lalu. (DEWA KRISNA PRADIPTA/BALI EXPRESS)

Tempat malukat ini berlokasi di Pantai Padanggalak, Kota Denpasar. Biasanya saat Banyupinaruh pemedek melakukan panglukatan maupun persembahyangan seperti biasanya.

Pendiri pura, Maha Guru Aitriya Narayana ketika diwawancarai Bali Express (Jawa Pos Group) mengatakan bahwa saat Banyu Pinaruh pamedek melakukan panglukatan seperti biasanya.

Berdasarkan pengalaman Bayu Pinaruh sebelum-sebelumnya, pamedek berdatangan sejak pukul 05.00.

  1. Tirta Panglukatan Campuhan

Tirta Panglukatan Campuhan berlokasi di Desa Sala, Kecamatan Susut, Bangli. Tempat malukat ini berawal dari beji yang sering digunakan oleh umat Hindu di desa setempat untuk melasti dan nunas tirta pada saat piodalan berlangsung. 

Ternyata, salah satu warga sembuh dari penyakit yang dideritanya setelah malukat di sana.

Atas usulan masyarakat setempat dan pacalang desa, sehingga beji tersebut direnovasi dan menjadi tempat malukat yang dibuka untuk umum.

Salah satu pamangku setempat, Jero Mangku Tirta menjelaskan adanya empat tahapan melaksanakan melukat di sana.

Pertama matur piuning (sembahyang di Pura Taman Tirta). Kedua, pamedek malukat di campuhan (pertemuan dua sungai). 

Selanjutnya malukat ke Taman Tirta dan sembahyang kembali di palinggih depan taman tirta tersebut.

Ia juga menjelaskan ketika akan melukat hanya menggunakan sarana, yaitu dua pejati dan canang secukupnya. 

  1. Pura Tirta Empul

Tempat malukat ini sudah sangat familiar. Lokasinya di Tampaksiring, Kabupaten Gianyar.

Tempat malukat di Pura Tirta Empul sudah dikenal masyarakat sejak beberapa tahun lalu.

Tak hanya saat Banyu Pinaruh, hampir setiap hari ada yang malukat di sana. Namun saat Banyupinaruh dipastikan lebih ramai.

  1. Tirta Suda Mala
MALUKAT: Sejumlah orang malukat di Tirta Sudamala, Banjar Adat Sedit, Desa Adat Bebalang, Bangli, Bali.
MALUKAT: Sejumlah orang malukat di Tirta Sudamala, Banjar Adat Sedit, Desa Adat Bebalang, Bangli, Bali.

Tempat malukat ini terletak di wilayah Banjar Sedit, Desa Adat, Bebalang, Bangli. Hampir setiap hari tidak pernah sepi.

Semua itu dikarenakan kebanyakan pamedek dari luar kota yang nangkil ke sana. Selain untuk melukat, juga dipercayai sebagai tempat berobat sakit niskala (nonmedis). 

Hal itu dibuktikan oleh pamangku pura tirta, Mangku Surya. Dengan menggunakan sarana dua pejati, pamedek sudah bisa mengikuti prosesi penglukatan secara berurutan.

Terdapat tiga sumber mata air di tempat malukat tersebut, salah satunya disebut Tirta Bulan yang diyakini untuk kecermelangan dalam kehidupan.

Sumber mata air kedua disebut Tirta Langse, yaitu sebuah tirta yang sering digunakan untuk para pedagang.

Ketiga ada Tirta Campuhan, yang berasal dari dua pohon beringin kembar. Sumber mata air ini dipercaya mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Pada pancuran yang umum terdapat sembilan pancuran yang tingginya sekitar 6 meter.

Kesembilan pancuran tersebut merupakan pancuran persawangan, yaitu berfungsi untuk menolak bala yaitu membersihkan macam kotoran secara rohani.

  1. Penglukatan Pura Mengening

Pura Mengening yang terletak di wilayah Desa Adat Saraseda, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar.

Terdapat 10 kelebutan (sumber mata air) di sana. Dari sekian klebutan yang ada, hanya satu terlihat berbeda, yaitu pada klebutan Tirta Malela yang dipenuhi dengan ikan bawel dan koi. 

Salah satu warga Saraseda, I Nyoman Weda, menjelaskan klebutan Tirta Malela itu merupakan Tirta yang diyakini berkhasiat untuk mempertahankan awet muda bagi seseorang yang melukat di sana. 

Ditanya terkait sejarah pura, Weda menjelaskan sudah berdiri sejak 1960-an. Sedangkan yang bersthana di sana, ia mengatakan Ida Sang Hyang Suci Nirmala.

"Berdiri pura ini masih ada kaitan dengan pura Tirta Empul, yang menyebabkan ada sebuah kemiripan pada penggunaan sumber mata airnya," paparnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#tirta empul #bali #banyu pinaruh #Saraswati #hindu #malukat