Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Berasal dari Bahasa Sansekerta, Arti Kata Hari Saraswati Hindu Bali Ternyata Bukan Ilmu Pengetahuan

Putu Agus Adegrantika • Sabtu, 16 Desember 2023 | 16:51 WIB
SARASWATI: Kata Saraswati berasal dari bahasa Sansekerta. Secara etimologi, arti kata Saraswati ternyata bukan ilmu pengetahuan.
SARASWATI: Kata Saraswati berasal dari bahasa Sansekerta. Secara etimologi, arti kata Saraswati ternyata bukan ilmu pengetahuan.

BALI EXPRRESS - Hari suci Saraswati secara rutin diperingati setiap hari Sabtu Umanis Wuku Watugunung atau setiap 6 bulan (210 hari).

Pada Hari Raya Saraswati umat Hindu di Bali khususnya, melakukan pemujaan terhadap Dewi Saraswati, yang dianggap sebagai dewi pengetahuan, seni, musik, sastra, dan kebijaksanaan.

Namun secara etimologi kata Saraswati berasal dari bahasa Sansekerta dari kata Saras yang berarti sesuatu yang mengalir dan Wati yang artinya yang memiliki.

Jadi arti dari kedua kata tersebut adalah ia yang memiliki sesuatu yang mengalir. Dalam artian Dewi Saraswati adalah sosok yang memiliki aliran ilmu pengetahuan yang meneruskan kepada seluruh insan di dunia ini.

Hal tersebut diungkapkan oleh dosen Kampus UHN Bagus Sugriwa, Hari Harsananda, Jumat (15/12).

Menurut Hari Harsananda, untuk merayakan hari suci Saraswati ada beberapa tahapan yang dilakukan. Yaitu pada hari suci Saraswati, semua pustaka-pustaka keagamaan  dan buku-buku pengetahuan lainnya serta alat-alat pelajaran sebagai linggasana Hyang Saraswati dibersihkan dari segala kekotoran.

“Pembersihan itu dilakukan melalui proses penyucian sekala maupun niskala dengan mantra pengantar, ‘Aum, Ung Saraswati Patcastra ya namah. Aum Ang Gangga Saraswati Suddha ya Namah,” jelasnya.

Selanjutnya semua pustaka dan piranti pelajaran tersebut dihaturkan sarana upakara. Sarana tersebut seperti banten Saraswati, soda putih kuning, canang sebagai sarana yang paling sederhana.

Lebih lanjut pria asal Gianyar ini menjelaskan, setelah selesai menghaturkan sesajen kepada Hyang Aji Saraswati, pada malam harinya umat Hindu seharusnya melaksanakan Sambang Samadhi, yaitu begadang (jagra) sambil membaca kitab-kitab suci yang dilanjutkan dengan penyucian lahir dan batin.

Kemudian keesokan harinya pada hari Minggu Paing Sinta atau yang dikenal dengan hari Banyu Pinaruh, melakukan penyucian dengan mandi di sungai, laut, danau hingga tempat lain yang dianggap dapat memberi kesucian pada diri.

Selain proses penyucian pada sumber air yang bersifat alami,  ada beberapa kebiasaan dari umat Hindu yang melanjutkan proses penyucian ini dengan nunas tirtha di griya-griya saat hari Banyu Pinaruh.

Baca Juga: Sesuai Tradisi Bali, Dilarang Membaca dan Menulis saat Saraswati: Dosen Hindu Ini Sebut Sumbernya

“Hal ini didasarkan pada keyakinan adanya konsep sulinggih sebagai pemimpin umat yang disucikan.  Sehingga tirta yang dibuat oleh sang sulinggih dinilai melengkapi serangkaian penyucian diri bagi umat Hindu pada hari suci Saraswati,” pungkasnya.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #Saraswati #ilmu pengetahuan #hindu #bahasa sansekerta #arti