BANGLI, BALI EXPRESS- Sehari setelah Hari Saraswati, umat Hindu di Bali merayakan Banyu Pinaruh.
Saat Banyu Pinaruh ini, umat Hindu di Bali melakukan prosesi malukat atau pembersihan diri di sumber mata air, campuhan maupun laut.
Seperti pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) di Pura Taman Pecampuhan, Desa Adat Sala, Kecamatan Susut, Bangli saat Banyu Pinaruh, Minggu 17 Desember 2023.
Sejak sekitar pukul 05.00, umat Hindu dari berbagai daerah di Bali sudah berdatangan untuk malukat ke sana.
“Ada yang dari Nusa Penida datang malukat ke sini,” celetuk seorang warga di sana.
Bendesa Adat Sala I Wayan Subagia mengungkapkan, umat Hindu yang datang malukat ke Pura Taman Pecampuhan itu lebih ramai dibandingkan Banyu Pinaruh sebelumnya.
Banyu Pinaruh kali ini, ia memprediksi lebih dari 1.000 orang. Sama seperti Banyu Pinaruh sebelum-sebelumnya, pamedek yang datang sejak pagi hingga malam hari.
“Kalau dibandingkan 6 bulan lalu (Banyu Pinaruh sebelumnya,Red) karena masih pengaruh Covid-19 jadi lebih sedikit. Sekarang meningkat,” jelas Subagia.
Subagia mengatakan, umat Hindu yang hendak malukat ke sana sebisa mungkin ngaturang banten pejati, tapi kalau tidak ada, tidak dipaksakan. “Kalau tidak membawa pejati, canang saja boleh,” terangnya.
Sebelum malukat di tempat itu, beberapa hal yang mesti menjadi perhatian. Salah satunya tidak dalam keadaan cuntaka, baik karena menstruasi atau sebab lainnya.
Ia menyebutkan ada beberapa tahapan malukat di sana. Totalnya ada 21 tahapan. Itu mulai dari mapiuning di linggih Ida Dewi Saraswati, linggih ancangan kiwa, ancangan tengah dan beberapa rangkain lainya dan terakhir sembahyang di jeroan Pura Taman.
Untuk memperjelas rangkaian malukat tersebut, pihak desa adat sudah memasangnya di beberapa tempat di areal itu.
Lanjut Subagia, selain bertepatan dengan Banyu Pinaruh, hampir setiap hari ada saja yang datang malukat ke sana. Itu karena memang dibuka untuk umum.
“Hari-hari biasa sekitar 100 orang, didominasi wisman (wisatawan mancanegara),” terangnya. (*)