Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ingat! Ini Rangkaian Hari Suci Saraswati Agama Hindu di Bali, Lontar Sundarigama Ungkap Maknanya

Putu Agus Adegrantika • Senin, 18 Desember 2023 | 17:06 WIB
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu, Ni Made Ayu Suniari mengungkap rangkaian hari suci Saraswati, berikut maknanya menurut lontar Sundarigama.
PENYULUH : Penyuluh Agama Hindu, Ni Made Ayu Suniari mengungkap rangkaian hari suci Saraswati, berikut maknanya menurut lontar Sundarigama.

BALI EXPRESS – Ada beberapa rangkaian hari suci agama Hindu paska Hari Saraswati, yaitu Soma Ribek, Sabuh Mas dan Pagerwesi.

Masing-masing hari suci tersebut memiliki makna tersendiri, seperti diungkap oleh Lontar Sundarigama.

Hari Saraswati yang jatuh pada hari terakhir dari wuku terakhir diperigati dan dirayakan sebagai anugerah Sang Hyang Widhi kepada umat manusia dalam bentuk ilmu pengetahuan dan teknologi.

Hari ini diartikan sebagai pembekalan yang tak ternilai harganya bagi umat manusia untuk kehidupan baru pada era berikutnya yang dimulai pada Wuku Sinta. 

Oleh karena itu, rangkaian hari-hari dari Saraswati ke Pagerwesi, mengandung makna sebagai berikut:

Setelah Saraswati, esoknya hari minggu adalah hari Banyu Pinaruh. Pada hari ini umat Hindu di Bali melakukan pesucian diri dengan mandi di air laut atau di kolam mata air suci. 

Pada saat ini dipanjatkan permohonan semoga ilmu pengetahuan digunakan untuk tujuan-tujuan mulia bagi kesejahteraan umat manusia di dunia dan terjalinnya keharmonisan Tri Hita Karana.

Yaitu, hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan, manusia dan sesama manusia, dan manusia dengan lingkungan atau alam semesta.

Kemudian esoknya, hari Senin disebut hari Soma Ribek yang dimaknai sebagai hari dimana Sang Hyang Widhi melimpahkan anugerah berupa kesuburan tanah dan hasil panen yang cukup untuk menunjang kehidupan manusia.

Selanjutnya, pada hari Selasa disebut hari Sabuh Mas. Pada hari ini umat Hindu di Bali memuja Sang Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai Mahadewa.

Umat melakukan pemujaan untuk mengucapkan puji syukur atas pahala dan rezeki setelah menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi di jalan dharma.

Kemudian hari raya Pagerwesi jatuh pada hari Rabu. Hari ini dimaknai sebagai upaya menjaga agar ilmu pengetahuan dan teknologi digunakan untuk kesucian dapat dipelihara dan dijaga agar selalu menjadi pedoman bagi kehidupan manusia selamanya.

Pagerwesi adalah hari yang paling baik untuk mendekatkan Atman kepada Brahman sebagai guru sejati. Pengetahuan sejati itulah sesungguhnya merupakan "Pager Besi" untuk melindungi hidup umat manusia di dunia ini. 

Inti dari perayaan Pagerwesi adalah memuja Tuhan sebagai guru sejati. Memuja berarti menyerahkan diri, menghormati, memohon, memuja, dan memusatkan diri.

Ini berarti bahwa umat manusia harus menyerahkan diri pada Tuhan agar beliau sebagai guru sejati dapat mengisi umat manusia dengan kesucian dan pengetahuan sejati.

Secara umum hari suci Pagerwesi memiliki makna untuk memagari diri atau magehang dewek dalam bahasa Bali. 

Penyuluh Agama Hindu, Ni Made Ayu Suniari, menjelaskan, hari suci Pagerwesi jatuh setiap Budha Kliwon Wuku Sinta.

Hari ini dirayakan untuk memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan manifestasinya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru atau Tuhan sebagai guru dari alam semesta.  

 "Hari ini dirayakan sebagai simbol keteguhan iman. Pagerwesi berasal dari kata ‘pager’ yang artinya pagar atau pelindung dan ‘wesi’ yang artinya besi,” paparnya.

“Jadi pagar besi ini memiliki makna sebagai suatu sikap keteguhan dari iman dan ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Sebab, tanpa ilmu pengetahuan, kehidupan manusia akan mengalami kegelapan atau awidya," jelasnya.

Hari suci Pagerwesi ada kaitan langsung dengan Hari Raya Saraswati yang jatuh pada Saniscara Umanis Watugunung.

Dalam sistem perhitungan kalender di Bali, Wuku Watugunung adalah urutan wuku yang terakhir dari 30 wuku yang ada, sedangkan Wuku Sinta adalah wuku yang pertama atau awal dari suatu siklus wuku yang ada.

Menurut Lontar Sundarigama, perayan Pagerwesi yang jatuh pada Budha Kliwon Wuku Sinta merupakan hari Payogan Sang Hyang Pramesti Guru diiringi oleh Dewata Nawa Sangga.

Sesuai keyakinan umat Hindu di Bali khususnya, Hyang Pramesti Guru adalah Tuhan dalam manifestasinya sebagai guru sejati. 

 "Makna yang lebih dalam terkandung pada kemahakuasaan Sang Hyang Widhi sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah, atau dikenal dengan utpeti, stiti, dan pralina dalam aksara suci disebut Ang, Ung, Mang," tutupnya.

Editor : Nyoman Suarna
#bali #lontar #sundarigama #Saraswati #hindu #hari suci