BALI EXPRESS - Pura Dalem Dukun Sakti yang terdapat di Desa Adat Tuban, Kecamatan Kuta, Badung, Bali tergolong unik.
Pasalnya, di dalam pura ini terdapat Pelinggih Tuan Aji Madura yang atapnya berbentuk arsitektur menyerupai kubah masjid.
Pura Dalem Dukun Sakti pada awalnya dibangun secara bertahap. Tahap pertama dari arah utara menuju selatan dan selanjutnya diikuti oleh bangunan lainya.
Terdapat beberapa pelinggih (tugu) yang ada di area Pura Dalem Dukun Sakti yakni Pelinggih Ida Bhatara Puncak Mahameru, Gedong yang merupakan Pelinggih Ratu Gede Dalem Ped, Padmacapah yang merupakan Pelinggih Pramanca Mahajenarantaka.
Selain itu, ada pula Padma Kembar yang merupakan Pelinggih Dalem Blambangan, Tugu Capah yang merupakan Pelinggih Jero Gede, Gedong Dalem Majapahit, Tajuk Pengaruman dan Pelinggih Perahu.
Semua pelinggih yang terdapat di Pura Dalem Dukun Sakti terbuat dari pasir malela.
Pura Dalem Dukun Sakti dikenal sebagai salah satu tempat untuk nunas tamba dan mampu memberikan kelancaran dalam segala aktivitas kesenian agar lebih bertaksu (berkharisma).
Hal ini ditunjukkan dengan pemedek yang nangkil untuk memohon kesembuhan.
Penggunaan nama Dalem ini karena sebagian besar Ida Bhatara yang berstana di pura ini yang menggunakan gelar Dalem.
Sedangkan kata dukun digunakan karena banyak masyarakat yang mendapatkan kesembuhan karena doanya dikabulkan di pura tersebut.
Jro Mangku di Pura Dalem Dukun Sakti juga tidak menampik ada masyarakat yang menyebutkan pura ini dengan nama Pura Dalem Dukun.
Ia menambahkan, salah satu keunikan dari Pura Dalem Dukun Sakti adalah keberadaan Pelinggih Tuan Aji Madura.
Konon, Pelinggih Tuan Aji Madura dibuat karena Beliau memberikan pawisik kepada Jro Mangku untuk meminta dibuatkan bangunan suci/pelinggih dengan atap yang berbentuk kubah Masjid.
Bangunan dari Pelinggih Tuan Aji Madura masih menggunakan arsitektur pelinggih Bali pada umumnya, tetapi hanya atapnya seperti kubah.
Terdapat beberapa keunikan mengenai keberadaan dari Pelinggih Tuan Aji Madura itu sendiri, yakni upacara khusus yang dilakukan di pelinggih tersebut, seperti halnya hari raya Idul Fitri yang dirayakan umat Islam.
Perayaannya dilaksanakan dengan menghaturkan nasi tumpeng dilengkapi dengan berbagai macam minuman, buah-buahan dan bunga.
Selain itu, saat melakukan persembahyangan di pelinggih tersebut, umat dilarang memakan daging babi. Termasuk juga persembahannya tidak boleh memakai daging babi.
“Ketika Tuan Aji Madura merasuki tubuh pemangku, maka bahasa yang digunakan yakni Bahasa Arab,” ungkapnya.
Tak hanya umat Hindu yang nangkil, umat non Hindu juga banyak yang bersembahyang di Pelinggih Tuan Aji Madura. Mereka yakin bahwa dengan bersembahyang di Pura Dalem Dukun Sakti mereka akan sembuh dari sakit yang diderita dan diberikan obat berupa air suci yang telah anugerahi oleh Tuan Aji Madura.
Editor : Nyoman Suarna