BALI EXPRESS - Kain Idup Panak merupakan salah satu jenis kain tradisional khas Desa Adat Tenganan Pegringsingan, di samping nama kain Gringsing dan kain Gotia.
Namun, Kain Idup Panak tidak sepopuler jenis kain lainnya. Bahkan cenderung tidak mendapat perhatian khusus.
Hal ini didasarkan pada persepsi masyarakat setempat, khususnya penenun Kain Idup Panak, bahwa kain tersebut hanya karya sampingan yang tercipta dari sisa-sisa benang pakan kain Gringsing.
Menenun Kain Idup Panak kerap dilakukan hanya untuk mengisi waktu luang. Tujuannya agar tidak ada limbah kain yang terbuang.
Karena memanfaatkan sisa-sisa benang kain Gringsing, tidak ayal motif Kain Idup Panak cenderung abstrak (pola yang lebih beragam) dalam selembar kainnya.
Berbeda dengan kain Tenun Gringsing yang dominan memiliki motif sama dalam selembar kainnya.
Kepala Desa Tenganan Pegringsingan, Ketut Sudiastika menjelaskan, Kain Idup Panak turut digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat, sebagai pelindung badan hingga dalam kegiatan adat istiadat.
Meski terbuat dari sisa benang pakan Kain Geringsing, kain ini turut diminati masyarakat dari luar Desa Adat Tenganan Pegringsingan sebagai suatu karya seni yang memiliki nilai ekonomis.
Hal ini dikarenakan Kain Idup Panak yang terbuat dari sisa-sisa benang pakan Kain Gringsing memiliki motif unik yang khas bahkan menyerupai Kain Gringsing asli dengan harga yang lebih rendah.
Dikatakan Sudiastika, Kain Idup Panak masih mempertahankan 3 warna pokok yaitu, merah sebagai symbol api, kuning sebagai simbol udara, dan hitam sebagai simbol air.
Tiga elemen vital dalam kehidupan ini, oleh masyarakat adat Tenganan, dinggap sebagai elemen dasar dalam menunjang kehidupan yang senantiasa harus dijaga keseimbangannya.
Elemen warna ini merupakan konsep pemikiran masyarakat adat Tenganan yang dituangkan ke dalam bentuk kombinasi warna dan motif.
“Ini merupakan sebuah gambaran bagaimana masyarakat adat Tenganan dalam berkreasi. Kain ini memang sangat diminati, karena harganya memang tidak seperti kain Geringsing,” tutupnya.
Editor : Nyoman Suarna