Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Tradisi Unik Tumpek Landep di Banjar Paketan Bali Utara: Warga Pasupati Pusaka di Pura Pengaruman

I Putu Mardika • Selasa, 26 Desember 2023 | 17:23 WIB
PASUPATI: Pura Pengaruman yang terletak di Banjar Paketan Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng, tempat melakukan pasupati pusaka milik krama saat Tumpek Landep.
PASUPATI: Pura Pengaruman yang terletak di Banjar Paketan Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng, tempat melakukan pasupati pusaka milik krama saat Tumpek Landep.

BALI EXPRESS - Tumpek Landep dirayakan sebagai momentum pemujaan kepada Sang Hyang Pasupati.

Hari suci Hindu ini dirayakan oleh umat Hindu di Bali khususnya, termasuk warga yang tinggal di Bali Utara.

Berbeda dengan umat Hindu di Bali pada umumnya yang melakukan pasupati pusaka miliknya di rumah masing-masing, warga Banjar Paketan Kecamatan Buleleng Kabupaten Buleleng memiliki tradisi unik terkait upacara pasupati.

Warga Banjar Paketan melaksanakan pasupati pusaka miliknya di Pura Pengaruman. Mereka secara bersama-sama melakukan upacara pasupati terhadap keris, tumbak dan pusaka miliknya di depan Pelinggih Pasupati.

Merupakan keyakinan warga setempat bahwa keris ataupun senjata warga Banjar Paketan tidak akan bertuah tanpa disertai pemasupatian panugrahan Bhatara Bhatari di Pura Pengaruman sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Upacara Pasupati di Pura Pengaruman dilaksanakan sebanyak satu kali yaitu pada saat tegak piodalan di Pura Pengaruman.

Seperti diketahui, Upacara Pasupati merupakan upacara sakralitas terhadap benda-benda yang diyakini bertuah. Upacara Pasupati tersurat dalam lontar Sundarigama sebagaimana kutipan berikut:

Saniscara kliwon, pujawalin bhatara Saiwa sambada, mwang yoganira sang hyang Pasupati, pujawalin bhatara Siwa, tumpeng putih adanan, iwak sate sarupania wenang, gerih terasi bang, sedah who sianglikur, aturakena ring sanggar.

Yogan sang hyang Pasupati, sasayut pasupati abesik, sasayut jayengperang abesik, sasayut kusumayuda abesik, suci daksina, peras ajuman, canang wangi, reresik, astawakena ring sarwa sanjata laladeping perang.

Kalingania ikang wwang apasupati landeping idep, samangkana lekasakena, sarwa mantra wisesa, danurdaran, uncarakena ring busananing aperang.

Baca Juga: Kompak! Roy Suryo dan Dokter Tifa Curigai Soal Mikrofon Gibran saat Debat, Begini Katanya!

Kutipan dalam Lontar Sundarigama tersebut mengungkap bahwasa nama Pasupati adalah nama lain dari dewa Siwa yang bergelar Sanghyang Pasupati.

Pada hari Sabtu (Saniscara) dengan Pancawara Kliwon Wuku Landep atau disebut dengan hari Tumpek Landep merupakan hari payogan Sanghyang Pasupati.

Umat Hindu yang memiliki benda-benda berupa senjata sepatutnya melakukan pemujaan.

Prosesinya dilakukan dengan menghaturkan sesaji, guna memohon anugerah agar benda-benda tersebut tetap bertuah dan sakral.

Hari suci Tumpek Landep secara tradisi merupakan hari pemujaan Sanghyang Pasupati oleh umat Hindu di Bali.

Segala jenis senjata yang berujung lancip, terlebih diyakini memiliki tuah dan disakralkan, diberikan upacara pemasupati.

Tujuannya adalah menyucikan senjata-senjata tersebut agar tuahnya tetap terjaga

Editor : Nyoman Suarna
#pasupati #bali utara #Pusaka #Pura Pengaruman #Banjar Paketan #Tumpek Landep #tradisi unik